Harapan untuk Pak Anies Baswedan di Kabinet Kerja

Precious Moment with Mr. Anies Baswedan :)

Precious Moment with Mr. Anies Baswedan 🙂

Halo Pak, apa kabar? semoga kesehatan dan keberkahan selalu bersama Bapak sehingga Bapak bisa menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya..aamiin..

Oya pak, kita pernah bertemu di acara On Off tahun 2011, mungkin Bapak sudah lupa. Kita sempat berfoto bersama dan Bapak memberikan tanda tangan di buku Indonesia Mengajar dengan pesan “tetaplah menjadi guru yang menginspirasi…” kalimat singkat tersebut menjadi penyemangat saya untuk mengabdikan diri di dunia pendidikan. Oya Pak, btw kita mempunyai kesamaan yaitu sama2 lahir di Kuningan, Jawa Barat dan juga Alumni FE UGM :)) Bapak menginspirasi saya untuk bisa memberikan yang terbaik di dunia pendidikan.

Ketika mendengar Bapak masuk menjadi Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah, saya termasuk di antara orang yang berbahagia dan bersyukur, karena saya sedikit banyak mengagumi kiprah Bapak di dunia Pendidikan termasuk dengan Program Indonesia Mengajar dan Kelas Inspirasinya. Saya menaruh harapan besar dan yakin akan kemampuan Bapak membawa dunia pendidikan Indonesia yang lebih maju dan bisa bersaing terutama sebentar lagi kita akan menghadapi MEA 2015.

Saya berharap Bapak bisa membenahi terutama sistem pendidikan di Indonesia. Sebagai guru juga saya berharap pendidikan kita tidak semata berorientasi pada angka, namun juga pada life skills dan akhlak. Pendidikan yang bisa memanusiakan manusia sesuai dengan usia peserta didik. Peserta didik usia dini tidak di bebani dengan berbagai beban belajar yang berat, karena usia mereka masih usia bermain. Di harapkan sistem pendidikan kita bisa mengakomodasi berbagai tipe kecerdasan siswa, sehingga siswa bisa menjadi yang terbaik di bidangnya masing-masing. Sekolah bisa menjadi tempat yang menyenangkan untuk belajar, mengasah dan mengembangkan kreatifitas, bersosialisasi, menciptakan karakter baik yang empatik terhadap lingkungan sekitar dan mempunyai kemampuan untuk mengatasi masalah di sekitarnya (problem solving).

Sebagai guru kewirausahaan juga saya berharap bisa memasukan kurikulum kewirausahaan yang mumpuni dan tidak hanya sekedar teori selama ini. Saya melakukan lebih banyak praktek untuk peserta didik saya, namun akan lebih baik jika mempunyai kurikulum yang komprehensif kerja sama dengan dunia usaha dan industri. Terakhir, memperhatikan pemerataan pendidikan, jangan ada lagi kasus anak putus sekolah karena biaya baik di daerah maupun juga yang masih banyak terjadi di perkotaan. Saya berusaha menginisiasi anak putus sekolah atau tidak mampu, namun kemampuan kami sangat terbatas dan butuh dukungan dari berbagai pihak termasuk pemerintah. Mungkin itu saja pak, semoga Bapak selalu sehat dan terus membawa inovasi-inovasi untuk pendidikan di Indonesia.

Selamat Bekerja Bapak Anies Baswedan.

Advertisements

Bagaimana Memanfaatkan TIK untuk Pendidikan?

Saat ini kita hidup di era 2.0, era dimana semua orang terhubung dan berbagi. Komunikasi terjadi tidak hanya satu arah dalam dunia apapun termasuk dunia pendidikan, dunia tempat saya mengabdi. Jika dulu pembelajaran yang saya dapatkan tahun 1990an sampai 2000an masih banyak yang terpusat pada satu sumber yaitu guru atau buku, maka saat ini saya tidak bisa memperlakukan hal yang sama kepada peserta didik saya. Mengapa? Karena mereka hidup di zaman dimana informasi bisa di dapat dari banyak sumber dengan mudahnya, ditunjang oleh keberadaan internet dan gadget yang semakin murah. Mereka bisa menjadi pandai dengan sendirinya, peran yang lebih penting menurut saya seperti yang di katakan Prof. Iwan Pranoto adalah bagaimana seorang pendidik bisa membuat peserta didiknya kasmaran belajar. Faktanya, banyak pekerjaan di zaman sekarang itu tidak ada 10 tahun yang lalu. Contohnya seperti analis media, sosial media strategis dan masih banyak lagi. Karena hal tersebut, maka tugas kita adalah menjadikan belajar menjadi suatu kenikmatan dan bukan paksaan, sehingga anak akan mudah mempelajari apapun sesuai dengan minat dan perkembangannya.

Education is about inspiring young people not just filling their heads with facts.

Saya juga menilai anak-anak saat ini bukan generasi penurut, sehingga dalam pembelajaran harus di buat lebih menarik dan salah satunya memanfaatkan teknologi seperti internet dalam proses pembelajaran. Teknologi muncul seperti dua sisi mata uang, namun sebagai guru,  tugas kita bukan menghindarinya dengan berbagai alasan, namun mengoptimalkan kompetensi kita dan peserta didik sehingga berpengaruh positif terhadap proses pembelajaran. Dalam sebuah seminar yang saya ikuti, dikatakan bahwa teknologi informasi dan komunikasi secara positif dapat memberikan manfaat seperti:

  1. Searching: mencari informasi, data, gambar dan pengetahuan
  2. Learning: pembelajaran untuk menulis jurnal atau pengetahuan
  3. Collecting: mengkoleksi gambar, lagu dan video
  4. Communicating: jejaring sosial menjadi tempat mencari teman
  5. Creating: wadah kreativitas dan inovasi

Continue reading

Saya Mau Belajar Mengajar Sampai ke Inggris!

Halo.. kali ini saya mau cerita salah satu obsesi dalam hidup saya di dunia pendidikan.. mau tau?? Mau aja yaaa 😀
Ya.. saya ingin sekali mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung sistem pendidikan di negara-negara yang sistem pendidikannya sudah terbukti bagus. Bentuknya ga harus kuluah lagi, bisa aja cuma short course atau mungkin studi banding. Hal tersebut penting bagi saya dan Insya Allah bagi dunia pendidikan yang saya geluti.

Mengapa penting? Karena saya melihat ada korelasi anatara sistem pendidikan yang baik dengan kemajuan suatu negara. Ya, jika kita ingin tahu bagaimana masa depan suatu bangsa, maka lihatlah pendidikannya. Pendidikan adalah salah satu komponen terpenting yang menentukan nasib suatu bangsa. Banyak fakta menunjukkan bahwa negara-negara maju pasti memiliki sistem pendidikan yang baik. Contohnya Jepang, Korea Selatan, Finlandia bahkan Malaysia sudah jauh meninggalkan Indonesia.

Sejak berkarir menjadi guru tahun 2009, saya berkeinginan untuk menimba ilmu lebih lanjut di dunia pendidikan. Ya karena saya merasa bahwa saya belum cukup ilmu untuk mengajar dan masih banyak hal terkait dengan pendidikan yang harus saya pelajari. Saya ingin siswa saya mendapatkan yang lebih baik dari apa yang saya dapatkan dari pendidikan yang sudah saya jalani. Sering saya merasa gemas ketika mengingat pendidikan yang telah saya dapatkan bukan berarti tidak bersyukur dan berterima kasih dengan apa yang telah saya dapatkan. Saya menganggap bahwa dulu ketika bersekolah tidak di dorong untuk selalu bertanya, bahkan saya sedih ketika dulu bertanya maka akan di anggap sebagai anak bodoh. Selain itu, saya juga tidak terbiasa untuk berbicara di depan umum karena sistem pendidikan yang terpusat pada guru. Kami hanya mencatat dan mendengar apa yang guru sampaikan, bahkan mungkin dulu terlalu banyak mencatat dan menghapal. Hal lainnya adalah, dulu anak yang menguasai matematika dan science adalah anak yang pintar, sedangkan anak yang lebih menguasai ilmu sosial atau seni di anggap nomer dua. Lucunya lagi, saya banyak melihat orang tua yang mengkursuskan anaknya pada mata pelajaran dimana anaknya lemah dalam pelajaran tertentu, misalnya nilai IPA jelek, maka anaknya akan di kursuskan IPA, bukan pada mata pelajaran yang nilainya bagus, padahal menurut saya setiap anak memiliki kecerdasannya masing-masing, atau yang di kenal dengan multiple intelegence, setiap anak dilahirkan dengan keunikannya masing-masing dan kemampuan yang berbeda-beda. Belum lagi kalo ngomongin soal Ujian Nasional yang ga pernah berakhir dan menimbulkan banyak masalah.. duhh..

Udahan dulu ah ngomongin soal unek-unek untuk sistem pendidikan kitanya, sekarang saatnya balik ke mimpi saya semula yukkk! Ya, saya ingin belajar langsung ke negara-negara yang pendidikan nya maju seperti yang saya sebutkan di atas. Awalnya si pengen ke Jepang, karena masih di Asia, jadi ga jauh-jauh amat. Hehe.. tapiii kalo dapetnya ke Inggris juga ga nolak kok *gubrak. Ya jelas dong ga nolak.. karena di Inggris itu banyak pemain-pemain bola yang ganteng *tetep. Saya termasuk yang menyukai pemain sepak bola dan klub bola Inggris seperti Chelsea, MU, Liverpool dan Arsenal. Loh ko sukanya banyak amat? Iya dong, pokoknya kalo disana ada pemain yang cakep disana pula saya suka.. iya, soalnya saya ga maniak-maniak amat sama sepakbola, cuma saya suka pertandingannya apalagi kalo ada pemain-pemain cakep kayak Beckham, Owen, Lampard, Gerrard, Torres, Van Persie, Ramsey, Hernandez dan masih banyak lagi pemain-pemainnya. Sebagian sudah pensiun dan beberapa masih main disana. Maaf udah lama ga nonton ni.. tapi yang pasti saya sangat menunggu moment World Cup 2014, yay Inggris menjadi salah satu jagoan saya! Nah pas nanti world cup, pastinya akan lebih afdol kalo nontonnya rame-rame dan di temani oleh snack yang lezat seperti Mister Potato 🙂

Credit

Credit

Nah, kalo saya punya kesempatan belajar melihat sistem pendidikan di Inggris, kan bisa sekalian melihat pemain-pemain ganteng Liga Inggris tersebut secara langsung .. sambil menyelam, minum air yaa :p

Yuk balik lagi ke pendidikan 🙂
Saya suka belajar, ya makanya saya kepo pengen tau sistem pendidikan di Inggris secara langsung, ga hanya baca di internet atau dapat cerita dari teman. Siapa tau juga bisa buka Akademi Berbagi di Inggris. Hehe.. oh iya, saya pengen tau juga disana ada ga si social movement seperti Akber, Indonesia Berkebun, Indonesia Mengajar dll. Saya ingin membuktikan beberapa hal yang saya dengar terkait dengan sistem pendidikan di sana, dan saya ingin juga mengaplikasikannya untuk siswa-siswa saya, minimal untuk sekolah yang saya pimpin terlebih dahulu, SMK Itaco. Saya ingin memberikan yang terbaik untuk mereka, ingin meyakinkan mereka bahwa meskipun bukan berasal dari kalangan kurang mampu secara ekonomi, namun bisa mendapatkan pendidikan yang baik untuk masa depannya..Aamiin…
Inilah beberapa hal tentang pendidikan di Inggris yang saya dapat dari berbagai sumber termasuk dari teman yang saat ini sedang menetap disana:

  1. Prioritas disana bukan tes dan nilai, sehingga tidak anak yang tidak naik kelas. Guru lebih memperhatikan siswa yang lemah pengertiannya dalam suatu pelajaran dibandingkan siswa yang mampu, sehingga tidak ada anak yang tertinggal pelajaran apalagi tertinggal kelas. Jadi kalo ada yang tinggal kelas, yang dipertanyakan gurunya. Terus bagaimana mengevaluasinya? Di Inggris lebih menekankan pada prosesnya bukan hasil semata yang tertulis di atas kertas. Sekolah tidak mengajarkan untuk salaing bersaing, namun setiap individu di dorong untuk bersaing dengan dirinya sendiri yaitu dengan cara menjadi lebih baik dari sebelumnya. Wow!
  2. Siswa di dorong untuk menjaga keseimbangan akademis dan non akademis seperti ekstrakulikuler, olahraga, seni dan budaya. Tidak ada yang lebih menonjol, semua harus seimbang. Di Indonesia, siswa lebih di dorong untuk berprestasi secara akademik dan menganggap seni dan olahraga hanya sebagai sampingan dan kurang menjanjikan di masa depan.
  3. Masa menempuh pendidikan yang relatif pendek. Jika dibandingkan dengan Indonesia, Inggris termasuk yang efisien dimana dalam usia 11 tahun siswa sudah masuk Junior High dan 13 tahun masuk Senior High. Sehingga ada perbedaan 2-3 tahun. Menurut saya, jika pendidikan yang diberikan tepat, maka siswa bisa berkarya dan berkontribusi lebih awal.
  4. Lebih banyak praktek daripada menghapal. Misalnya untuk meningkatkan kemampuan membaca, siswa di minta untuk membaca buku yang mereka sukai untuk kemudian mereka ceritakan kembali sesuai dengan bahasa mereka masing-masing. Untuk meningkatkan kemampuan berbicara, maka siswa sering di ajak berdiskusi dan di kelompokan menjadi beberapa kelompok. Saya di sekolah sudah mulai menerapkan hal serupa, dimana setiap bab materi pelajaran saya bagi ke siswa secara berkelompok, siswa mencari bahan sendiri dari bermacam sumber, kemudian presentasi dan kelompok lainnya menanggapi. Disini guru hanya berperan sebagai fasilitator.
  5. Memberikan apresiasi atas apa yang lakukan anak. Misalanya ketika siswa melakukan hal baik seperti membantu guru atau temannya, maka dia akan di berikan stiker yang bertuliskan “Well done”, “Star”, “Great” dll. Itulah cara guru menghargai siswa dan akan membuat siswa tersebut tetap semangat tetap melakukan hal-hal baik. di Inggris juga ada yang namanya Head Teacher Awards, dimana Kepala Sekolah akan memberikan penghargaan seperti prestasi belajar, perilaku baik, yang paling bagus improvement nya dll. Yang dinilai bukan hasil akhir, namun kepada proses yang telah dilalui oleh siswa.
Semoga suatu saat bisa..(foto bagian atas credit)

Semoga suatu saat bisa..(foto bagian atas credit)

Wow, mungkin banyak lagi hal-hal positif lainnya dan jika saya dapat kesempatan ke Inggris meskipun hanya seminggu saya akan memanfaatkan untuk melihat secara langsung dan mempelajari apa yang saya dengar di atas, selain itu sekalian dong mengunjungi markas-markas klub Inggris seperti Old Trafford, Stamfort Bridge, Anfield dll siapa tau juga ketemu sama pemain-pemain bola nya yang ganteng *eh, juga mengunjungi beberapa tempat bersejarah di Inggris seperti Menara Jam Big Beng, Tower Bridge, London Eye, Madame Tussauds, Buckingham Palace dll.

I wanna go there.. (foto credit)

I wanna go there.. (foto credit)

Iya, saya ingin terus belajar untuk mengajar yang lebih baik. Mengajar membuat saya menyadari untuk juga terus belajar dan meningkatkan kemampuan. Saya tidak hanya ingin sekedar mengajar, tapi juga mendidik siswa-siswa saya menjadi lebih baik dan bisa menegmbangkan potensi terbaik yang ada pada dirinya sehingga kelak bisa bermanfaat untuk sesama.

Jadi ini alasan kenapa saya harus ke Inggris:

  1. Melihat sistem pendidikan di Inggris dan mempelajari cara guru mengajar siswanya..
  2. Berkunjung ke stadion-stadion megah dan destinasi wisata terutama sejarah di Inggris. I love learning history..
  3. Ini agak maksa, karena bulan Juli saya ulang tahun, so kalo dapat kesempatan ke Inggris, it will be unforgetable present in my life :))

So…England… Here I’am! 🙂

Me, my students & Smax Ring

Me, my students & Smax Ring

Referensi :

http://aldiofahrezi.blogspot.com/2013/04/10-sekolah-terbaik-di-jfk-international_11.html

http://edukasi.kompasiana.com/2013/04/01/tidak-ada-tidak-naik-kelas-di-sekolah-inggris-547412.html

http://edukasi.kompasiana.com/2012/09/14/sekolah-anak-di-inggris-3-proses-belajar-penuh-apresiasi-493180.html

Indonesia Move On dengan Pendidikan Wirausaha

“A country can be prosperous if there are entrepreneurs at least 2% of the population”

– David Mc Clelland –

Suatu negara bisa makmur jika dinegara tersebut memiliki sedikitnya 2% wirausahawan dari total populasi penduduknya. Sayangnya saat ini Indonesia baru memiliki sekitar 1,56% dari total sekitar 240 juta penduduknya. Jauh dari kondisi ideal. Sedangkan negara tetangga terdekat, Malaysia jumlah wirausahanya sebanyak 5% dan Singapura sebanyak 7%. Indonesia membutuhkan lebih banyak wirausaha. Menurut Ciputra Indonesia memiliki sekitar 10% wirausahawan potensial namun karena tidak pernah dididik, dilatih dan diberi kesempatan mereka tidak berhasil menjadi wirausahawan. Orang tua di Indonesia kebanyakan sejak jaman dahulu lebih sering mengarahkan anak untuk menjadi karyawan di perusahaan besar, asing ataupun BUMN atau menjadi Pegawai Negeri Sipil. Menurut mereka manjadi wirausahawan tidak menjadikan masa depan yang baik karena mempunyai resiko bangkrut dan juga pendapatan yang tidak menentu seperti profesi karyawan. Sehingga kewirausahaan kurang berkembang di Indonesia. Salah satu penyebab kurang berkembangnya kewirausahan di Indonesia adalah faktor sistem pendidikan di Indonesia dalam mengembangkan budaya kewirausahaan. padahal kewirausahaan bukan merupakan bakat semata namun sesuatu yang bisa dipelajari dan di latih. Seandainya kewirausahaan sejak dini di tanamkan, mereka akan memiliki mindset untuk menciptakan pekerjaan dan bukan untuk mencari pekerjaan. Banyaknya masalah di Indonesia saat ini seperti kesehatan, pendidikan, sosial, kemiskinan yangperlu di tanggulangi bersama. Dengan pendidikan wirausaha, Insya Allah masalah di atas bisa kita tangani. Karena dengan kualitas dan kuantitas wirausaha yang baik otomatis akan meningkatkan kemakmuran suatu negara.

Continue reading

Optimisme ditengah Permasalahan Pendidikan Indonesia

Jika kita ingin tahu bagaimana masa depan suatu bangsa, maka lihatlah pendidikannya. Sebab, pendidikan adalah salah satu komponen terpenting yang menentukan nasib suatu bangsa. Banyak fakta menunjukkan bahwa negara-negara maju pasti memiliki sistem pendidikan yang baik. Contohnya Jepang, Korea Selatan, Finlandia bahkan Malaysia sudah jauh meninggalkan Indonesia. Begitu pun dengan negara-negara yang dulunya berada dalam kondisi yang tidak baik, mulai terangkat derajatnya dengan sedikit demi sedikit membenahi sistem pendidikan mereka. Hal tersebut bisa kita lihat dari negara seperti China dan India yang sudah menjadi salah satu negara yang diperhitungkan dunia.

Makna pendidikan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik), yaitu memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian yaitu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik.

Pendidikan merupakan proses sistematis untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia dengan menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner). Pendidikan harus mencakup dimensi (i) afektif yang tercermin pada kualitas keimanan, akhlak mulia dan kepribadian unggul, (ii) kofnitif yang terlihat pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta (iii) psikomotorik yang dicerminkan oleh keterampilan dan kecakapan teknis. Pendidikan seharusnya menjadi wahana strategis bagi upaya mengembangkan segenap potensi yang ada pada setiap individu masyarakat Indonesia.

Foto: Dokumentasi Pribadi

Unesco (United Nation on Educational, Social, and Cultural Organization) menyebutkan bahwa empat pilar pendidikan menitikberatkan pada: (1) learning to know, (2) learning to do, (3) learning to be, (4) learning to live together. Esensi keempat pilar tersebut adalah bahwa pendidikan mampu menghasilkan manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, pendidikan juga mampu menerapkannya dalam kehidupan demi kesejahteraan masyarakat dan pendidikan merupakan sarana pengembangan diri manusia setinggi dan seoptimal mungkin. Ketika pendidikan bisa menghasilkan lulusan seperti ini maka pendidikan bisa menjadi kekuatan untuk meningkatkan derajat dan martabat suatu bangsa.

Continue reading

Guru.. karir yang tak kan pernah usang ..

“The influence of a good teacher can never be erased.”

–     Unknown

Pengaruh guru yang baik tidak akan pernah terhapus .. setelah pernah mengalami menjadi seorang murid dan beberapa tahun merintis karir menjadi seorang guru, saya termasuk orang yang percaya dengan kutipan tersebut. Pengaruh seorang guru yang baik akan terus melekat sepanjang hayat anak didiknya, bahkan terkadang ketika anak beranjak dewasa, pengaruh guru sama atau bahkan lebih besar dari orang tua. Sejak SD, guru merupakan sosok yang sangat dekat dengan keseharianku karena statusku sebagai murid. Entah mengapa saya suka sekali ketika guru saya memberikan nilai atas hasil pekerjaan rumah atau ulangan-ulangan, saya suka melihat angka yang terterta di kertas itu. Ada khayalan seandainya suatu saat nanti saya menuliskannya di kertas murid-murid saya. Hal lain adalah, saya senang sekali ketika SMP pernah diajak oleh guru seni rupa untuk mengoreksi hasil ujian catur wulan teman-teman sekolah di rumahnya. Wahh, walaupun belum jadi guru saya sudah boleh mengoreksi walaupun hanya pilihan gandanya saja. Luar biasa perasaan ketika itu.

A good teacher, source: http://www.oakland.edu

Menjalani karir di dunia pendidikan merupakan pilihan yang sesuai dengan passionku. Ketika duduk di bangku SMU 1 Cirebon, saya mengidolakan Guru Bahasa Inggris yang bernama Bu Fifi yang kebetulan ketika itu juga menjadi wali kelas di kelas 3. Entah mengapa juga, ketika SMP pun yang saya idolakan adalah guru Bahasa Inggris, Bu Yeti. Saya menyukai cara mereka menyampaikan materi sehingga saya juga akhirnya menyukai pelajaran Bahasa Inggris dimana awalnya saya menganggap bahwa Bahasa Inggris merupakan pelajaran yang sulit. Nah apa saya bercita-cita menjadi Guru Bahasa Inggris? Ya! Hal tersebut pernah terlintas, namun ketika SMU saya lebih menggemari pelajaran Ekonomi. Hal tersebut bisa dilihat dari nilai raport, dimana Ekonomi lebih tinggi dari Bahasa Inggris. Saya pun memantapkan diri pindah Jurusan ke IPS, karena saya tau saya lebih menyenangi Ekonomi/Akuntansi dibanding eksakta. Ketika itu, Wakil Kepala Sekolah kami heran dan bingung ketika saya pindah jurusan karena rata-rata yang minta pindah itu dari IPS ke IPA. Hehehe. Ketika UGM akan mengadakan ujian masuk dimana jadwalnya lebih dulu dibandingkan dengan SPMB, saya mengalami perasaan kalau zaman sekarang itu mungkin namanya “galau” karena awalnya saya ingin melanjutkan ke Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengambil Pendidikan Ekonomi, namun Bu Fifi mendorong untuk megikuti tes tersebut, dan jika saya memang ingin mengajar setelah lulus nanti bisa mengambil Akta IV.

Continue reading

PEMANFAATAN TEKNOLOGI UNTUK PENDIDIKAN

Dunia saat ini bergerak sangat dinamis terutama menyangkut teknologi. Teknologi yang tercanggih saat ini bisa jadi hanya akan menjadi kenangan karena eksistensinya tergeser oleh teknologi baru yang lebih mutakhir. Perkembangan teknologi juga berpengaruh di hampir semua elemen masyarakat, termasuk guru. Teknologi muncul seperti dua sisi mata uang, namun sebagai pendidik tugas kita bukan untuk menghindarinya dengan berbagai alasan, namun bagaimana mengoptimalkan penggunaannya guna meningkatkan kompetensi yang akan berpengaruh positif terhadap proses pembelajaran sehingga pada akhirnya dapat menghasilkan generasi yang berdaya saing untuk Indonesia yang lebih maju. Menurut pendapat saya, keterampilan yang dibutuhkan oleh peserta didik saat ini dan masa-masa mendatang adalah kemampuan untuk terus belajar (life long learning) dalam inovasi, problem solving, keterampilan berbahasa asing, informasi, media dan teknologi.

Tantangan yang dihadapi guru memang semakin kompleks dan sudah saatnya sekarang guru untuk terus belajar dan meng-upgrade kemempuannya dalam memanfaatkan teknologi untuk pendidikan, karena peserta didik saat ini lahir di dunia yang semakin maju peradabannya. Jika kita tidak mau belajar dan bebenah diri, niscaya kita akan tertinggal dan menjadi tidak menarik lagi karena saat ini guru bukan lagi menjadi satu-satunya sumber belajar bagi peserta didik. Berikut adalah beberapa manfaat dari penggunaan teknologi untuk pendidikan:

Continue reading