Harapan untuk Pak Anies Baswedan di Kabinet Kerja

Precious Moment with Mr. Anies Baswedan :)

Precious Moment with Mr. Anies Baswedan 🙂

Halo Pak, apa kabar? semoga kesehatan dan keberkahan selalu bersama Bapak sehingga Bapak bisa menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya..aamiin..

Oya pak, kita pernah bertemu di acara On Off tahun 2011, mungkin Bapak sudah lupa. Kita sempat berfoto bersama dan Bapak memberikan tanda tangan di buku Indonesia Mengajar dengan pesan “tetaplah menjadi guru yang menginspirasi…” kalimat singkat tersebut menjadi penyemangat saya untuk mengabdikan diri di dunia pendidikan. Oya Pak, btw kita mempunyai kesamaan yaitu sama2 lahir di Kuningan, Jawa Barat dan juga Alumni FE UGM :)) Bapak menginspirasi saya untuk bisa memberikan yang terbaik di dunia pendidikan.

Ketika mendengar Bapak masuk menjadi Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah, saya termasuk di antara orang yang berbahagia dan bersyukur, karena saya sedikit banyak mengagumi kiprah Bapak di dunia Pendidikan termasuk dengan Program Indonesia Mengajar dan Kelas Inspirasinya. Saya menaruh harapan besar dan yakin akan kemampuan Bapak membawa dunia pendidikan Indonesia yang lebih maju dan bisa bersaing terutama sebentar lagi kita akan menghadapi MEA 2015.

Saya berharap Bapak bisa membenahi terutama sistem pendidikan di Indonesia. Sebagai guru juga saya berharap pendidikan kita tidak semata berorientasi pada angka, namun juga pada life skills dan akhlak. Pendidikan yang bisa memanusiakan manusia sesuai dengan usia peserta didik. Peserta didik usia dini tidak di bebani dengan berbagai beban belajar yang berat, karena usia mereka masih usia bermain. Di harapkan sistem pendidikan kita bisa mengakomodasi berbagai tipe kecerdasan siswa, sehingga siswa bisa menjadi yang terbaik di bidangnya masing-masing. Sekolah bisa menjadi tempat yang menyenangkan untuk belajar, mengasah dan mengembangkan kreatifitas, bersosialisasi, menciptakan karakter baik yang empatik terhadap lingkungan sekitar dan mempunyai kemampuan untuk mengatasi masalah di sekitarnya (problem solving).

Sebagai guru kewirausahaan juga saya berharap bisa memasukan kurikulum kewirausahaan yang mumpuni dan tidak hanya sekedar teori selama ini. Saya melakukan lebih banyak praktek untuk peserta didik saya, namun akan lebih baik jika mempunyai kurikulum yang komprehensif kerja sama dengan dunia usaha dan industri. Terakhir, memperhatikan pemerataan pendidikan, jangan ada lagi kasus anak putus sekolah karena biaya baik di daerah maupun juga yang masih banyak terjadi di perkotaan. Saya berusaha menginisiasi anak putus sekolah atau tidak mampu, namun kemampuan kami sangat terbatas dan butuh dukungan dari berbagai pihak termasuk pemerintah. Mungkin itu saja pak, semoga Bapak selalu sehat dan terus membawa inovasi-inovasi untuk pendidikan di Indonesia.

Selamat Bekerja Bapak Anies Baswedan.

Advertisements

Bagaimana Memanfaatkan TIK untuk Pendidikan?

Saat ini kita hidup di era 2.0, era dimana semua orang terhubung dan berbagi. Komunikasi terjadi tidak hanya satu arah dalam dunia apapun termasuk dunia pendidikan, dunia tempat saya mengabdi. Jika dulu pembelajaran yang saya dapatkan tahun 1990an sampai 2000an masih banyak yang terpusat pada satu sumber yaitu guru atau buku, maka saat ini saya tidak bisa memperlakukan hal yang sama kepada peserta didik saya. Mengapa? Karena mereka hidup di zaman dimana informasi bisa di dapat dari banyak sumber dengan mudahnya, ditunjang oleh keberadaan internet dan gadget yang semakin murah. Mereka bisa menjadi pandai dengan sendirinya, peran yang lebih penting menurut saya seperti yang di katakan Prof. Iwan Pranoto adalah bagaimana seorang pendidik bisa membuat peserta didiknya kasmaran belajar. Faktanya, banyak pekerjaan di zaman sekarang itu tidak ada 10 tahun yang lalu. Contohnya seperti analis media, sosial media strategis dan masih banyak lagi. Karena hal tersebut, maka tugas kita adalah menjadikan belajar menjadi suatu kenikmatan dan bukan paksaan, sehingga anak akan mudah mempelajari apapun sesuai dengan minat dan perkembangannya.

Education is about inspiring young people not just filling their heads with facts.

Saya juga menilai anak-anak saat ini bukan generasi penurut, sehingga dalam pembelajaran harus di buat lebih menarik dan salah satunya memanfaatkan teknologi seperti internet dalam proses pembelajaran. Teknologi muncul seperti dua sisi mata uang, namun sebagai guru,  tugas kita bukan menghindarinya dengan berbagai alasan, namun mengoptimalkan kompetensi kita dan peserta didik sehingga berpengaruh positif terhadap proses pembelajaran. Dalam sebuah seminar yang saya ikuti, dikatakan bahwa teknologi informasi dan komunikasi secara positif dapat memberikan manfaat seperti:

  1. Searching: mencari informasi, data, gambar dan pengetahuan
  2. Learning: pembelajaran untuk menulis jurnal atau pengetahuan
  3. Collecting: mengkoleksi gambar, lagu dan video
  4. Communicating: jejaring sosial menjadi tempat mencari teman
  5. Creating: wadah kreativitas dan inovasi

Continue reading

Indonesia Move On dengan Pendidikan Wirausaha

“A country can be prosperous if there are entrepreneurs at least 2% of the population”

– David Mc Clelland –

Suatu negara bisa makmur jika dinegara tersebut memiliki sedikitnya 2% wirausahawan dari total populasi penduduknya. Sayangnya saat ini Indonesia baru memiliki sekitar 1,56% dari total sekitar 240 juta penduduknya. Jauh dari kondisi ideal. Sedangkan negara tetangga terdekat, Malaysia jumlah wirausahanya sebanyak 5% dan Singapura sebanyak 7%. Indonesia membutuhkan lebih banyak wirausaha. Menurut Ciputra Indonesia memiliki sekitar 10% wirausahawan potensial namun karena tidak pernah dididik, dilatih dan diberi kesempatan mereka tidak berhasil menjadi wirausahawan. Orang tua di Indonesia kebanyakan sejak jaman dahulu lebih sering mengarahkan anak untuk menjadi karyawan di perusahaan besar, asing ataupun BUMN atau menjadi Pegawai Negeri Sipil. Menurut mereka manjadi wirausahawan tidak menjadikan masa depan yang baik karena mempunyai resiko bangkrut dan juga pendapatan yang tidak menentu seperti profesi karyawan. Sehingga kewirausahaan kurang berkembang di Indonesia. Salah satu penyebab kurang berkembangnya kewirausahan di Indonesia adalah faktor sistem pendidikan di Indonesia dalam mengembangkan budaya kewirausahaan. padahal kewirausahaan bukan merupakan bakat semata namun sesuatu yang bisa dipelajari dan di latih. Seandainya kewirausahaan sejak dini di tanamkan, mereka akan memiliki mindset untuk menciptakan pekerjaan dan bukan untuk mencari pekerjaan. Banyaknya masalah di Indonesia saat ini seperti kesehatan, pendidikan, sosial, kemiskinan yangperlu di tanggulangi bersama. Dengan pendidikan wirausaha, Insya Allah masalah di atas bisa kita tangani. Karena dengan kualitas dan kuantitas wirausaha yang baik otomatis akan meningkatkan kemakmuran suatu negara.

Continue reading

Mengapa Pelajar Harus Mendapatkan Pengalaman Kewirausahaan?

Pepatah dalam sistem pendidikan kita adalah jika anda berkerja keras selama di sekolah, maka hampir di jamin pekerjaan yang baik akan menghampiri anda. Namun pepatah tersebut terpatahkan karena keterbatasan ekonomi dan kompetisi global. Banyak perusahaan saat ini mengharapkan siswa untuk mempunyai paling tidak satu kali melakukan kegiatan magang atau dikenal dengan istilah Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Indonesia. Dalam era saat ini, anda tidak bisa menggantungkan diri pada sesuatu atau seseorang untuk membuat kamu sukses. Anda harus bertanggung jawab terhadap karir anda sendiri dan menciptakan jalan anda sendiri.

Banyak siswa yang mengeluh dan stress karena ketika magang dibayar rendah bahkan sangat sulit mendapatkan bayaran.  Jelas, solusinya adalah siswa memulai bisnis atau proyek sampingan, dimana keduanya bisa merupakan kegiatan magang. Jika bisnis gagal, mereka masih belajar sesuatu dan mempunyai pengalaman dalam daftar riwayat hidup mereka.

Siswa Belajar Design Grafis

Siswa Belajar Design Grafis

Saat ini, banyak universitas menawarkan kursus kewirausahaan atau juga banyak institusi menyelenggarakan lomba tentang kewirausahaan. Selain itu, perusahaan mulai mengerti pentingnya pendidikan kewirausahaan tersebut. Jika di telisik lebih jauh, banyak fakta  menunjukkan bahwa beberapa perusahaan sebenarnya mencari siswa yang mempunyai pengalawan berwirausaha ketika mencari karyawan untuk posisi level awal/entry level staf. Mengapa? Karena siswa yang mempunyai mindset kewirausahaan bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri, agresif dan mereka tahu bagaimana mengeksekusi. Mereka juga memiliki kemampuan komunikasi dan menjual yang merupakan hal penting dalam bisnis saat ini. Perusahaan yang cerdas sangat mengerti bahwa jika mereka tidak berinovasi, mereka tidak bisa memenangkan masa depan. Dengan merekrut wirausahwan muda, mereka membawa perspektif baru dan ide-ide segar ke tempat kerja.

Ketika berbicara kepada pemberi kerja tentang fenomena ini, beberapa top eksekutif mengatakan bahwa mereka lebih memilih siswa yang mempunyai pengalaman wirausaha daripada siswa yang mempunyai pengalaman 5 kali magang. Kewirausahaan secara alamiah mengembangkan soft skills seperti kemampuan komunikasi dan kemampuan bekerja sama dimana saat ini perusahaan hampir putus asa mencari kandidat generasi pemimpin mendatang diperusahaannya. Jika anda seorang pelajar saat ini, buatlah misi untuk menjemput karir anda di tangan anda sendiri dan mulailah proyek atau bisnis kecil baik dengan jualan online, menjual produk ke sesama teman atau anda datang dengan ide besar Facebook berikutnya. Perusahaan tidak peduli jika hal itu sukses atau gagal, namun yang terpenting anda belajar sesuatu darinya. Jaka kamu ingin lulus dengan sebuah pekerjaan, kemudian lebih baik anda memoles keterampilan wirausaha anda dan masa depan anda bergantung padanya!

Itulah yang coba saya terapkan pada siswa saya di SMK ITACO. Kami berusaha untuk mengembangkan sebuah usaha. Selain untuk membantu biaya pendidikan mereka, tujuan dari kegiatan kewirausahaan kami adalah untuk memberikan pengalaman wirausaha untuk mereka sedini mungkin, sehingga setelah lulus nanti mereka mempunyai mindset seorang wirausahawan meskipun nantinya mereka memilih jalan menjadi profesional, namun karakter wirausahaan akan menyertai mereka seperti kerja keras, pantang menyerah, inovatif, open mind, tidak gengsi dan masih banyak lagi yang bisa di petik nilai dari seorang wirausahawan. Pastinya karakter tersebut akan memberikan nilai plus untuk tempat kerjanya nanti. Mereka di harapkan tidak hanya menjadi karyawan biasa-biasa saja minim kontribusi. Apalagi seperti kita tahu di era globalisasi dan akan di bentuknya ASEAN Community tahun 2015 nanti, persaingan akan semakin ketat dan tidak hanya bersaing dengan sesama WNI namun juga dengan warga ASEAN lainnya.

Referensi:

http://techcrunch.com/2012/06/30/why-students-should-gain-entrepreneurship-experience-before-graduating/