Mempererat Persatuan di Museum Nasional

Saya termasuk orang yang menyukai pelajaran sejarah ketika duduk di bangku SMP dan SMA. Menurut saya pelajaran sejarah memberikan insight tentang kehidupan di masa lalu, mengambil pelajaran-pelajaran baiknya dan meningggalkan hal-hal buruk. Sejarah membuktikan bahwa apa yang kita tanam itulah yang akan kita panen… salah satu bagian bab sejarah yang saya sukai adalah peninggalan zaman pra sejarah. Saya sangat takjub melihat candi, arca, menhir, prasasti dll. Masih belum terpikir sampai sekarang bagaimana nenek moyang kita dahulu membuatnya. Saat ini dimana teknologi begitu maju, rasanya belum tentu membuat hal serupa.. wuihhh. Dari sejarah saya belajar bahwa kehidupan manusia saat ini sangat terkait dengan kehidupan sebelumnya.

Kesukaan saya itulah yang membuat saya menyukai berkunjung ke museum. Beberapa museum yang pernah saya kunjungi antara lain Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri, Museum Sangiran dan Museum Nasional atau Museum Gajah. Ini salah satu cerita saya ketika mengunjungi Museum Sangiran > klik disini

Perjalanan saya ke Museum Nasional cukup istimewa meskipun berlangsung dalam waktu yang tidak terlalu lama akhir Maret lalu. Apa pasal? Karena saat itu saya berkunjung bersama finalis Guru Berprestasi dari sebuah lembaga pendidikan dan jadwal kami di batasi. Semoga di lain waktu saya bisa datang kembali dengan waktu yang cukup banyak.

Saya dan kesembilan guru lainnya berasal dari daerah yang berbeda. Ada dari Jawa, Sumatera, Kalimantan dll sehingga datang ke museum dan melihat koleksinya membuat saya sadar bahwa kita merupakan sebuah kesatuan yang tidak terpisahkan meskipun kita mempunyai adat istiadat dan warisan nenek moyang yang berbeda. Saya semakin menyadari bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya. Sangat! Saya semakin menyadari bahwa meskipun kita berbeda suku, namun kita merupakan satu saudara yang tidak bisa dipisahkan. Melihat koleksinya, kami menyadari bahwa kami saling terkoneksi. Dekat.. sangat dekat!

Oya, mengapa Museum Nasional di sebuat sebagai Museum Gajah? Menurut sumber yang saya baca, hal tersebut karena dihadiahkannya patung gajah berbahan perungu oleh Raja Chulalongkorn dari Tahiland pada tahun 1871 yang kemudian dipasang di halaman depan museum. Meskipun demikian, sejak 28 Mei 1979, nama resmi lembaga ini adalah Museum Nasional Republik Indonesia.

Ada apa saja si di Museum Nasional tersebut? Disana saya banyak melihat koleksi benda-benda kuno dari seluruh nusantara. Barang-barang yang saya lihat antara lain arca-arca kuno, prasasti, barang-barang kerajinan, senjata tradisional keramik, mata uang, perhiasan, relief sejarah, alat transportasi zaman dahulu dan masih banyak lagi.

Disalah satu arca

Disalah satu arca

Hal lain yang sangat menyentuh saya adalah ketika melihat peta besar suku bangsa Indonesia. Saya kagum sekali bagaimana nenek moyang kita bisa bersatu padu demi kejayaan dan kemerdekaan Indonesia tanpa memandang suku, ras dan agama. Disitu kami diingatkan bahwa saat ini kita harus lebih bersatu karena nenek moyang kita pun mengajarkan hal tersebut. Jadi saya agak miris melihat banyak konflik yang berlatar SARA. Harusnya mereka berkunjung dan mempelajari sejarah di Museum ini sehingga bisa berfikir panjang sebelum membuat konflik. Harusnya kita lebih bersatu untuk membuat Indonesia kembali jaya seperti apa yang telah di perjuangkan oleh nenek moyang kita.

Bersama finalis di Peta Suku Indonesia

Bersama finalis di Peta Suku Indonesia

Beberapa peninggalan yang luar biasa

Beberapa peninggalan yang luar biasa

Hal yang sangat saya kagumi juga adalah Arca Adityawarman sebagai Bhairawa, salah satu kekayaan koleksi masa Hindu-Budha. Patung ini tertinggi di Museum Nasional dengan tinggi 414 cm yang merupakan manifestasi dari Dewa Lokeswara yang merupakan perwujudan Boddhisatwa (Pancaran Budha di Bumi).

Ketika kesana pun saya melihat Museum Nasional sedang menambah koleksinya dengan tempat yang lebih luas dan nyaman.

di depan Arca Adityawarman

di depan Arca Adityawarman

Saya dan ke sembilan finalis lain semakin menyadari bahwa kita sama, satu saudara. Kami saling mengagumi budaya satu sama lain dan persaudaraan kita pun tidak terhenti ketika acara sudah usai. Sampai saat ini kami masih melakukan komunikasi meskipun hanya via online …

Sayang waktu berkunjung hanya sebentar sehingga tidak banyak yang bisa saya pelajari dan foto-foto pun tidak terlalu banyak 😦 Insya Allah saya akan kembali dengan cerita yang lebih lengkap. Saya suka sejarah karena dengan sejarah saya bisa mempelajari masa lalu untuk mengambil pelajaran sebagai bekal masa kini dan masa yang akan datang :))

di depan relief nenek moyang :p

di depan relief nenek moyang :p

di depan museum kita tercinta

di depan museum kita tercinta

Teman-teman yuk kunjungi museum kita tercinta ini yang beralamat di Jalan Medan Merdeka Barat No.12, berikut informasi umumnya:

Waktu Kunjungan

Senin dan hari besar nasional : Tutup

Selasa – Jum’at : 08.00 – 16.00

Sabtu – Minggu : 08.00 – 17.00

Tiket Masuk

1. Pengunjung Perorangan :

a. Dewasa : Rp 5.000,-
b. Anak-anak : Rp 2.000,-

2. Pengunjung Rombongan (minimum 20 orang)

a. Dewasa : Rp 3.000,-
b. Anak-anak (TK s.d. SMA) Rp 1.000,-

3. Pengunjung Asing Rp 10.000,-

Untuk info lebih lanjut plis cek http://www.museumnasional.or.id/, sampai jumpa disana yaa :))

Referensi :

http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Nasional_Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s