Bagaimana Pembelajaran Kewirausahaan di Sekolah

Mengampu mata pelajaran kewirausahaan di sekolah saya mencoba untuk mempertajam pengalaman langsung berwirausaha dan tidak sekedar pemahaman teori semata. Saya percaya setiap siswa punya mimpi dam ide-ide cemerlang namun belum tereksploitasi dengan baik. Mereka membutuhkan arahan dan bimbingan untuk merubah cara pandang. Fokusnya antara lain adalah:

  1. Membantu siswa melihat semua jenis masalah di sekelilingnya
  2. Membantu siswa melihat bahwa semua masalah merupakan peluang
  3. Mengembangkan kebiasaan kreatif untuk masalah tersebut

Saya mencontohkan peluang usaha yang berawal dari masalah. Salsabeela atau akrab di panggil Ollie. Ollie merupakan seorang penulis muda dan produktif, namun di saat akan menerbitkan bukunya yang ke-16, beliau di tolak oleh penerbit tempat biasa menerbitkan bukunya dengan alasan bahwa bukunya akan kurang laku di pasaran. Ternyata telah menulis 15 buku saja belum bisa membuat buku Ollie diterbitkan. Ollie kemudian melihat bahwa, dia saja masih kesulitan mencari penerbit, bagaimana dengan penulis pemula? Akhirnya dia mengembangkan nulisbuku.com. Nulisbuku merupakan penyedia jasa self publishing bagi para penulis yang ingin menerbitkan tulisan atau karya mereka dalam rupa bentuk cetak fisik buku, layaknya yang bisa dilakukan penerbit-penerbit buku kebanyakan di Indonesia. Nulisbuku menempatkan diri mereka sebagai ‘perantara’ bagi mereka yang ingin menerbitkan karya sehingga tidak perlu lagi menunggu atau bergantung pada penerbit, siapapun bisa menjadi penerbit dengan menerbitkan karya dengan sistem self publishing. Jadi melalui Nulisbuku setiap orang kini bisa menerbitkan buku nya sendiri. Terlihat bahwa Ollie  membuat suatu bisnis berawal dari masalah yang dia hadapi dan juga banyak orang hadapi untuk kemudian mencari cara bagaimana menyelesaikannya.

Saya ingin mengembangkan kurikulum kewirausahaan di SMK yang di rancang untuk membaut siswa berfikir lebih dari hanya sekedar melihat bagaimana sebuah usaha berdiri. Saya ingin mengajarkan siswa berfikir tentang kekuatan dan potensi yang mereka punya untuk menciptakan perubahan dalam dunia mereka dengan menghubungkan passion dengan minat bisnisnya. Kurikulum kewirausahaan mencakup topik pengembangan produk, marketing dan menjaga pelanggan, networking dan praktek memproduksi dan menjual. Selain itu juga saya memberikan studi kasus untuk setiap pembelajaran. Studi kasus tersebut di design untuk membuat konsep bisnis yang abstrak menjadi relevan dan melibatkan siswa. Melalui studi kasus tersebut, siswa melihat praktek bisnis terbaik dalam tindakan dan menjadi lebih terlibat dengan materi. Contoh studi kasus adalah bagaimana Facebook memperoleh keuntungan, bagaimana J.Co bisa berkembang hingga ke mancanegara dll. Salah satu perwujudan hal di atas dan untuk mengasah sense of entreprenuership, saya bersama beberapa murid pernah mengikuti pameran wirausaha muda mandiri pada tahun 2010 lalu. Pada kesempatan tersebut dipamerkan Wirausaha Mandiri tahun 2007, 2008 dan 2009 dengan berbagai jenis usaha yang mereka jalankan. Di antaranya usaha di bidang boga, kreatif serta industri dan jasa yang sebagiannya dikembangkan melalui sistem franchise. Kami dan ribuan pengunjung Expo Wirausaha Mandiri 2010 tercengang menyaksikan deretan angka-angka omzet yang berhasil dicetak sejumlah wirausahawan muda yang ikut dalam expo tersebut. Deretan angka menakjubkan senilai puluhan juta bahkan miliaran rupiah itu terpampang di layar yang dipasang di area pameran sehingga pengunjung dapat langsung membacanya. Para wirausahawan di expo ini menawarkan bisnis kerja sama, baik dalam bentuk mitra usaha, franchise, maupun agen pemasaran.

Founder nulisbuku.com. sumber: nulisbuku.com

Founder nulisbuku.com. sumber: nulisbuku.com

Kesimpulannya, negara-negara yang unggul dalam sumber daya manusianya akan memenangkan persaingan, sebaliknya negara-negara yang tidak memiliki keunggulan bersaing dalam sumber daya manusia akan kalah dalam persaingan. Negara-negara yang memiliki daya saing adalah negara-negara yang mampu memberdayakan sumber daya ekonomi sumber daya manusianya secara nyata, salah satunya melalui pengembangan kewirausahaan. Pengembangan kewirausahaan sebaiknya sejak dini diajarkan di sekolah, sehingga selain mereka unggul dalam kompetensi mereka juga mampu untuk menciptakan lapangan kerja minimal untuk dirinya sendiri sehingga bisa menciptakan Indonesia yang mandiri. Saatnya pendidikan di Indonesia dapat berperan sebagai problem solver dengan dibarengi mental wirausahawan tangguh yang terpatri dalam diri anak didik. Selain itu, dengan jiwa wirausahanya peserta didik akan selalu melakukan pembaharuan dan inovasi secara dinamis di masyarakat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s