Optimisme ditengah Permasalahan Pendidikan Indonesia

Jika kita ingin tahu bagaimana masa depan suatu bangsa, maka lihatlah pendidikannya. Sebab, pendidikan adalah salah satu komponen terpenting yang menentukan nasib suatu bangsa. Banyak fakta menunjukkan bahwa negara-negara maju pasti memiliki sistem pendidikan yang baik. Contohnya Jepang, Korea Selatan, Finlandia bahkan Malaysia sudah jauh meninggalkan Indonesia. Begitu pun dengan negara-negara yang dulunya berada dalam kondisi yang tidak baik, mulai terangkat derajatnya dengan sedikit demi sedikit membenahi sistem pendidikan mereka. Hal tersebut bisa kita lihat dari negara seperti China dan India yang sudah menjadi salah satu negara yang diperhitungkan dunia.

Makna pendidikan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik), yaitu memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian yaitu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik.

Pendidikan merupakan proses sistematis untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia dengan menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner). Pendidikan harus mencakup dimensi (i) afektif yang tercermin pada kualitas keimanan, akhlak mulia dan kepribadian unggul, (ii) kofnitif yang terlihat pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta (iii) psikomotorik yang dicerminkan oleh keterampilan dan kecakapan teknis. Pendidikan seharusnya menjadi wahana strategis bagi upaya mengembangkan segenap potensi yang ada pada setiap individu masyarakat Indonesia.

Foto: Dokumentasi Pribadi

Unesco (United Nation on Educational, Social, and Cultural Organization) menyebutkan bahwa empat pilar pendidikan menitikberatkan pada: (1) learning to know, (2) learning to do, (3) learning to be, (4) learning to live together. Esensi keempat pilar tersebut adalah bahwa pendidikan mampu menghasilkan manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, pendidikan juga mampu menerapkannya dalam kehidupan demi kesejahteraan masyarakat dan pendidikan merupakan sarana pengembangan diri manusia setinggi dan seoptimal mungkin. Ketika pendidikan bisa menghasilkan lulusan seperti ini maka pendidikan bisa menjadi kekuatan untuk meningkatkan derajat dan martabat suatu bangsa.

Pendidikan memang telah menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia untuk pembangunan bangsa. Oleh karena itu, kita seharusnya dapat meningkatkan keterampilan sumber daya manusia Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan sumber daya manusia di negara-negara lain. Di Indonesia, kerjasama untuk membangun keterampilan abad-21 adalah dengan membangun kerjasama kolaboratif diantara pendidikan, bisnis, masyarakat dan pemerintah. Kerjasama menyoroti “Kesenjangan antara pengetahuan dan keterampilan yang paling dipelajari siswa di sekolah dan pengetahuan serta keterampilan yang mereka butuhkan di masyarakat Abad-21”, Keterampilan yang diperlukan abad-21 adalah:

  • Menguasai subjek utama dan tema Abad-21
  • Keterampilan belajar dan inovasi
  • Keterampilan informasi, media dan teknologi
  • Keterampilan hidup dan karir

Tantangan Pendidikan

Dunia yang semakin menyatu dalam satu kesatuan yang utuh melalui globalisasi sudah menjadi kenyataan. Thomas L. Friedman bahkan merangkumnya dengan bahasa yang lugas: ”The World is Flat”. Saat ini, bukan saja isu perekonomian dan perdagangan dunia yang kian menyatu, namun juga berbagai isu lain, seperti demokratisasi, ilmu pengetahuan, teknologi, komunikasi dan informasi, bahkan pendidikan, serta berbagai isu lainnya. Berbagai negara membentuk aliansi bersama untuk bergabung dalam satu kekuatan besar dalam menghadapi persaingan yang semakin kompetitif. Maka munculah AFTA, MEE, G-7 dan lain-lain sehingga batasan suatu negara kian tak kentara dengan tingkat dinamika dan mobilitas yang semakin tinggi dari masyarakatnya.

Saat ini Indonesia masih menghadapi ketertinggalan di berbagai bidang. Hal tersebut tercermin dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) / Human Development Index (HDI). HDI merupakan pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. Human Development Index yang diterbitkan setiap tahun oleh United Nations Development Programme (UNDP) merupakan laporan yang memotret dan memberikan peringkat perkembangan pembangunan negara-negara di dunia. Indonesia termasuk satu dari 187 negara-negara yang dilaporkan dalam HDI tersebut. Secara keseluruhan, pada tahun 2011, perkembangan pembangunan Indonesia mengalami kemerosotan secara drastis, yaitu berada diperingkat 124. Padahal HDR 2010 menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke 108. Tahun 2011, HDI Bidang Pendidikan, Indonesia No.119 dari 187 Negara. Di Asia Pasifik, Indonesia No.12 dari 21 Negara. Indonesia masih tertinggal jauh bahkan oleh negara-negara tetangga sekalipun seperti Malaysia, Singapore dan Brunai. Indonesia menghadapi persalahan serius dalam mutu pendidikannya di berbagai jenjang pendidikan.

Permasalahan Pendidikan di Indonesia

Tidak ada satu negara pun yang tidak mempunyai masalah dalam bidang pendidikan, termasuk Indonesia. Namun tingkat permasalahannya berbeda-beda. Indonesia termasuk salah satu negara yang masih mempunyai masalah besar dalam pendidikan. Jika saya simpulkan ada  3 hal yang menjadi permasalahan utama dunia pendidikan di Indonesia.

A.   Kurangnya Pemerataan Kesempatan Pendidikan

Salah satu kekayaan terbesar suatu bangsa terletak pada ilmu pengetahuan rakyatnya bahkan hal tersebut ditegaskan dalam pembukaan UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Artinya, seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali harus terpastikan bisa mengakses pendidikan dengan sebaik-baiknya. Namun ironisnya saat ini diperkirakan masih ada 9 juta rakyat Indonesia yang masih terbelenggu buta huruf. Belum lagi, menurut laporan Departeman Pendidikan dan Kebudayaan, setiap menit ada empat anak yang putus sekolah. Bahkan pada tahun 2010 usia sekolah yakni 7-15 tahun yang terancam putus sekolah sebanyak 1,3 juta. Tingginya angka putus sekolah menyebabkan peringkat indeks pembangunan rendah.

Anak SD belajar, sumber: http://4.bp.blogspot.com

Angka partisipasi sekolah di Indonesia juga masih terbilang rendah. Dari data diperoleh bahwa Angka Partisipasi Kasar (APK) tingkat SMP baru 70%. Sedangkan APK untuk tingkat SMU baru berkisar 60%. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M.Nuh, pada tahun 2010 1,5% siswa SD drop out dan tidak melanjutkan 8,87% dari 31 juta siswa. Untuk SMP tingkat drop out mencapai 1,61% dan 21,13% tidak melanjutkan dan tingkat SMA sebesar 2,86% drop out dan 33,11% tidak melanjutkan pendidikan. Angka tersebut adalah angka yang tercatat, mungkin jumlahnya bisa lebih besar lagi.

Sedikit saya ceritakan pengamatan bagaimana seorang anak terpaksa harus putus sekolah. Dahulu saya mempunyai siswa, sebut saja namanya Hera. Menginjak kelas 3 SMK, hera terpaksa putus sekolah karena banyaknya tunggakan di sekolah. Kondisi ekonomi juga memaksa hera bekerja untuk membantu orang tua dan meninggalkan impiannya mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Saya sudah mengusahakan agar hera tetap sekolah melalui program orang tua asuh, namun karena hera bisa dianggap meringankan beban orang tua, akhirnya hera terpaksa bekerja. Data menyebutkan, 70% siswa di Indonesia tidak bisa sekolah karena masalah keuangan.

Ilustrasi anak putus sekolah, sumber: http://cjcdn.sun.netdna-cdn.com

Selain itu, saya juga sempat mewawancarai salah satu anak yang putus sekolah di kelas 2 SLTP 2 tahun yang lalu, sebut saja namanya dika. Dika putus sekolah karena merasa malu 6 bulan menunggak uang SPP dan uang buku. Sejak berusia dua tahun, sang ayah meninggal dan sejak itu pula dia tinggal bersama sang nenek yang mengalami kelumpuhan karena jatuh. Untuk biaya sehari-hari dia berkata dengan bekerja sebagai PNS, namun jangan salah PNS disini bukan Pegawai Negeri Sipil namun Pegawai Negeri Steam. Dika sangat ingin terus bersekolah, dika ingin sama dengan anak lainnya.

Inilah masalah pendidikan nasional kita, pendidikan masih merupakan barang mahal bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Pendidikan tidak dianggap sebagai hak setiap warga negara namun hanya untuk mereka yang mempunyai kemampuan secara materi. Bahkan banyak pihak yang menjadikan sebagai lahan untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, sehingga banyak bermunculan sekolah-sekolah dengan biaya selangit berlabel sekolah berstandar internasional atau sekolah plus-plus lainnya. Padahal jika kita lihat negara yang maju sistem pendidikannya seperti Jepang, maka disana tidak ada pengkastaan label sekolah. Semua sekolah mendapat posisi sama baik negeri atau swasta dan tidak ada yang dianaktirikan.

Sudah saatnya pemerintah mengatur regulasi yang lebih adil bagi masyarakat. Jangan biarkan pendidikan menjadi sesuatu yang diperdagangkan dan menjadi eksklusif untuk sebagain besar masyarakat. Berikan pendidikan murah bahkan gratis namun berkualitas untuk setiap anak bangsa. Perbesar anggaran yang besar untuk pendidikan sesuai dengan amanat UU 45 yaitu sebesar 20%. Namun anggaran tersebut harus bisa dialokasikan secara efektif dan efisien, baik untuk pemerataan kesempatan belajar maupun sarana dan prasarana fisik. Harus diakui, pembangunan masih berpusat di Jawa. Hal tersebut diperparah dengan masih maraknya korupsi anggaran pendidikan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Pemerintah dan masyarakat harus bisa memantau dan memonitoring hal ini untuk meminimalisir kerugian yang ditimbulkan sehingga berakibat buruk pada rendahnya pemerataan kesempatan pendidikan.

B.   Sistem Pendidikan dan Guru yang Masih Menempatkan Siswa Sebagai Objek

Pemerintahan datang silih berganti namun pendidikan Indonesia masih menempatkan siswa sebagai objek dalam pendidikan. Siswa dianggap sebagai botol kosong yang siap diisi dengan seabrek materi kurikulum. Pembelajaran masih banyak yang berpusat pada guru (teacher centreed learning). Hal inilah yang dikemudian hari menyebabkan lulusan yang tidak kritis terhadap zamannya karena siswa terbiasa menerima secara satu arah apa yang didapatnya di bangku sekolah. Siswa dipandang sebagai makhluk yang pasif yang belum memahami dan dituntut memahami materi yang disampaikan guru. Karena sifatnya sebagai objek, kesempatan siswa untuk mengembangkan kemampuan sesuai minat dan bakatnya bahkan untuk bisa belajar sesuai dengan gaya belajarnya menjadi terbatas. Padahal seperti kita tahu, setiap siswa memiliki tipe kecerdasan yang berbeda-beda. Menurut Howard Gardner, setiap orang memiliki tipe kecerdasan yang berbeda dan dikenal dengan Multiple Intellegence. Teori ini menganggap bahwa setiap anak itu cerdas dan setiap anak memiliki minimal satu tipe kecerdasan. Banyak salah kaprah di masyarakat dimana menganggap bahwa bahwa cerdas identik dengan pencapaian secara akademis. Munib Chatib seorang pakar multiple intellegent mengungkapkan redefinisi kecerdasan:

 “Kecerdasan adalah kebiasaan atau perilaku yang diulang-ulang dimana tujuannya menghasilkan anak yang kreatif dan mempunyai kemampuan problem solving. Kecerdasan seseorang tidak terkait dengan kondisi fisik, kondisi otak dan hasil tes-tes standar. Setiap manusia mempunyai potensi yang jika distimulus dengan tepat akan menghasilkan kompetensi” – Munif Chatib –

Multiple intellegence menitikberatkan pada cara belajar anak dimana ketika gaya mengajar guru sama dengan gaya belajar siswa akan menghasilkan rumus pembelajaran.  Terdapat paradigma yang keliru selama ini dimana jika guru mengajar maka murid akan belajar, padahal belum tentu hal tersebut terjadi. Sebab mengajar dan belajar adalah dua proses yang berbeda. Paradigma keliru lainnya adalah perencanaan mengajar terletak pada bagaimana guru mengajar kemudian murid mengerti, namun paradigma baru yang benar adalah perencanaan mengajar terletak pada bagaimana murid bisa mengerti barulah merancang bagimana guru mengajar.

Menurut Richard M Felder (1996), tujuan dari pendidikan adalah untuk membantu siswa membangun keterampilan mereka dalam memelajari hal yang disukai dan kurang disukai. Proses belajar akan optimal jika pemelajar berperan aktif. Saatnya Indonesia mengembangkan pembelajaran yang lebih berpusat pada siswa (Student Centered Learning). Guru dan sekolah dengan dukungan pemerintah dan masyarakat harus dapat mengembangkan metode pembelajaran seperti problem based learning, collaborative learning, project based learning dan lain-lain. Tujuannya siswa bisa belajar lebih banyak, belajar menjadi lebih hidup dan belajar bukan merupakan suatu beban bagi siswa namun suatu kebutuhan, sehingga mereka bisa menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner).

C. Rendahnya Relevansi Pendidikan dengan Kebutuhan

Rendahnya relevansi pendidkan dengan kebutuhan salah satunya bisa dilihat dari masih banyaknya lulusan yang menganggur. Berdasarkan data BPS pada Februari 2012, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) untuk tingkat pendidikan Diploma dan Sarjana masing-masing 7,5% dan 6,95%. TPT pendidikan menengah masih tetap menempati posisi tertinggi, yaitu TPT Sekolah Menengah Atas sebesar 10,34% dan TPT Sekolah Menengah Kejuruan sebesar 9,51%. Hal tersebut cukup ironis mengingat permintaan tenaga kerja saat ini terus tumbuh. Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang fungsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja. Anggaran pendidikan yang beberapa tahun terakhir jumlah meningkat hendaknya juga mengalokasikan untuk basis pengembangan pendidikan yang relevan dengan tantangan dan realitas yang dihadapi peserta didik yang sesungguhnya.

Berdasarkan data BPS pada Februari 2012, pekerja pada jenjang pendidikan SD ke bawah masih tetap mendominasi yaitu sebesar 55,5 juta orang (49,21%), sedangkan pekerja dengan pendidikan diploma sekitar 3,1 juta orang (2,77%) dan pekerja dengan pendidikan universitas hanya sebesar 7,2 juta orang (6,43%). Sementara itu, jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Februari 2012 mencapai 120,4 juta orang, bertambah bertambah sebesar 1 juta orang dibanding Februari 2011.

Daya saing sumber daya manusia bidang tenaga kerja tingkat internasional relatif  rendah bahkan juga jauh tertinggal oleh negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.  Selain itu banyak kalangan industri menilai tenaga kerja Indonesia yang merupakan lulusan lembaga-lembaga pendidikan menengah dan lulusan perguruan tinggi di nilai belum siap kerja. Pentingnya daya saing SDM di tingkat Internasional telah mendorong para pengambil kebijakan pendidikan mengembangkan konsep ”Link and Match” antara pendidikan dengan industri terutama Sekolah Menengah Kejuruan sebagaimana yang di gagas oleh Menteri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wardiman Djojonegoro, 1993-1998),  Hal ini terus dikembangkan sampai lahirnya kurikulum berbasis kompetensi (Tahun 2000) dan kebijakan Mendiknas tentang standar kompetensi lulusan (Tahun 2006) yang mana didalamnya mencakup kesiapan siswa memasuki dunia kerja.

Tingginya lulusan SMU yang menganggur menjadikan pemerintah sudah saatnya memperbanyak dan meningkatkan kualitas Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SMK hadir sebagai solusi pemerintah mengentaskan pengangguran yang jumlahnya terus bertambah. Saat ini pemerintah tengah giat-giatnya mempromosikan SMK, bahkan sedang mengubah proporsi jumlah SMA SMK dari semula 70:30 menjadi 30:70. Kelebihan SMK adalah mampu menyiapkan peserta didik yang kreatif, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki kompetensi yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja. Joko Sutrisno (2008). Bahkan, hasil sebuah survei menunjukkan bahwa di kota-kota di mana populasi SMK lebih tinggi dari SMA, maka daerah tersebut memiliki pertumbuhan ekonomi dan produk domestik regional bruto yang lebih tinggi.

Siswa/i SMK ITACO sedang mengikuti pelajaran produktif

Namun anggapan bahwa semua SMK bermutu dan menghasilkan lulusan yang siap diterima dunia kerja tidak selamanya tepat, hal tersebut bisa dilihat dari masih banyaknya lulusan SMK yang menganggur. Sebagai gambaran, di Jawa Timur, lulusan SMK baru 45% yang terserap dunia kerja, selebihnya (55%) masih menjadi pengangguran. Selain itu, banyak perusahaan dan industri yang mengeluhkan sulitnya mendapat teknisi tingkat menengah sesuai standar. Padahal, peluang kerja terbuka di dalam dan luar negeri, yang tidak terpenuhi karena lulusan yang ada belum mencapai kompetensi yang dibutuhkan. Problem ketidakterkaitan (mismatch) antara SMK dan dunia usaha atau dunia industri, disebabkan beberapa hal.

  • Pertama, tidak semua SMK mencetak lulusan yang adaptif dengan dunia kerja. Hal ini disebabkan ketidaktersediaan fasilitas bengkel atau laboratorium kerja yang layak dan modern, serta membangun kerja sama yang kuat dengan dunia kerja.
  • Kedua, dari aspek tenaga pengajar, banyak guru SMK yang ketinggalan dalam meng-update keahlian agar sesuai dengan perkembangan zaman. Akibatnya, banyak pendidikan di SMK yang dijalankan secara asal-asalan yang muaranya hanya menghasilkan lulusan tanpa kompetensi memadai.
  • Ketiga, program-program yang ditawarkan SMK saat ini belum efektif dan efisien. Ini dapat dilihat dari kualitas lulusan yang belum mampu menjawab tantangan dunia industri. Dengan kata lain, belum ada kesesuaian antara SMK dan industri. Ketika lulusan SMK masuk dunia kerja, ternyata teknologi industri sudah berkembang pesat.

Tampaknya tidak ada pilihan bagi SMK, selain berbenah diri. Menurut Wardiman Djojonegoro (2007), langkah utama adalah mengubah orientasi dan paradigma pendidikan. Jika selama ini tujuan pendidikan di SMK hanya mengejar ijazah, kini harus diganti mengejar kompetensi. Konsekuensinya, sekolah harus paham standar dunia kerja, dan harus membangun kerja sama yang baik dengan banyak pihak, terutama dunia industri dalam arti luas. Selain itu, sekolah membutuhkan sistem pembelajaran yang tidak berjarak dengan dunia kerja dan masyarakat yang selalu berkembang dinamis.

Di Jerman, sejarah pendidikan kejuruan telah dimulai sejak abad ke 19. Sekolah jenis ini menekankan sistem pendidikan ganda dimana selain training kejuruan di sekolah, siswa juga diberi kesempatan untuk magang di perusahaan. Pada tahun 2001, sebanyak dua pertiga dari seluruh generasi muda berusia dibawah 22 tahun telah menjalani magang di perusahaan. Untuk mendukung perkembangan pendidikan ini, pada tahun 2004, pemerintah mengeluarkan peraturan yang menegaskan bahwa semua pemilik perusahaan, kecuali yang berskala kecil, wajib menerima siswa magang untuk bekerja di perusahaannya.

Pemerintah sebagai pemegang kebijakan (policy maker) perlu segera membenahi sistem pendidikan SMK. Landasan filosofis harus dibuat dengan saksama. Jangan sampai pendidikan SMK, meminjam istilah Henry A Giroux (1993), menjadi hamba pabrik/industri. Institusi pendidikan model demikian, lanjut Giroux, akan gagal melihat kemungkinan bahwa proses pembelajaran merupakan pilar utama humanisasi anak didik.

Untuk Sekolah Menengah Umum dan pendidikan tinggi, sudah saatnya mampu mengintegrasikan dunia pendidikan, riset dan industri. Saat ini kuantitas dan kualitas riset di Indonesia masih rendah. Dengan riset yang berkualitas, diharapkan mampu menghasilkan temuan-temuan baru. Temuan dan inovasi inilah yang kemudian dimanfaatkan industri atau atau entrepreneurship. Seperti kita tahu negara akan maju jika memiliki paling tidak 2% wirausahawan, namun Indonesia belum mampu menghasilkan lulusan yang kreatif, terbukti lulusan hanya pintar mencari kerja namun belum bisa menciptakan lapangan kerja sendiri.

Selain pengembangan hard skill di berbagai tingkat pendidikan, pengembangan soft skill juga harus menjadi perhatian utama. Life skill yang dikembangkan mencakup 9 (sembilaan) dimensi yaitu : (1) communication skills, (2) numeracy skills, (3) information skills, (4) problem solving skills, (5) self management and competitive skills, (6) social dan co-operation skills, (7) physical skills dan (8) work and study skills, serta (9) attitude and values, sebagaimana yang dikembangkan Dalin dan Rust. Dengan demikian, maka Indonesia memiliki harapan besar untuk bangkit dari berbagai ketertinggalan. Dan dunia internasinal akan menilai bahwa negara kita memiliki SDM yang berkualitas sehingga mampu meningkatkan daya saing dan kemandirian bangsa.

Alurnya adalah dunia pendidikan mencetak para ahli dan tenaga kerja terampil yang dibutuhkan lembaga riset maupun industri. Setelah itu, sebagian tenaga terampil masuk ke industri, sedangkan sebagian tenaga ahli masuk ke lembaga riset. Di lembaga riset para ahli menghasilkan temuan baru. Temuan dan inovasi lembaga riset ini kemudian dimanfaatkan industri, namun di Indonesia pengintegrasian dunia pendidikan, riset, dan industri baru sebatas wacana. Di sini, dunia pendidikan, riset, dan industri seolah jalan sendiri-sendiri. Hal tersebut berbeda dengan Finlandia. Finlandia sebagai negara dengan pendidikan terbaik di dunia meletakkan pendidikan dalam konteks ekonomi. Mereka menanam investasi yang besar di bidang pendidikan dan pelatihan agar bisa mencetak tenaga ahli dan terampil yang nantinya menghasilkan inovasi. Tak heran di sana banyak bermunculan banyak inovasi untuk menunjang kemajuan ekonomi bangsanya.

Optimisme yang tak boleh padam

Mengutip pernyataan Ki Hajar Dewantara:

Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelektual dan tubuh anak); dalam Taman Siswa tidak boleh dipisahkan bagian-bagian itu agar supaya kita memajukan kesempurnaan hidup, kehidupan, kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik, selaras dengan dunianya (Ki Hajar Dewantara, 1977:14)

Dari etimologi dan analisis pengertian pendidikan di atas, secara singkat pendidikan dapat dirumuskan sebagai tuntunan pertumbuhan manusia sejak lahir hingga tercapai kedewasaan jasmani dan rohani, dalam interaksi dengan alam dan lingkungan masyarakatnya. Kualitas pendidikan di Indonesia memang masih sangat rendah bila di bandingkan dengan kualitas pendidikan di negara-negara lain. Hal-hal yang menjadi penyebab utamanya yaitu kurangnya pemerataan baik kesempatan maupun sarana prasarana, anggaran pendidikan yang masih rendah dan masih dikebiri, sistem pendidikan yang masih menempatkan siswa sebagai objek, rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan, kesejahteraan dan kualitas guru dan masih banyak lagi.

Kompleksnya masalah tersebut menyebabkan kita tidak bisa sendirian memperbaikinya. Perlu kerja sama semua pihak. Masyarakat semakin menyadari pentingnya pendidikan terhadap masa depan bangsa, namun mereka juga sadar tidak bisa sepenuhnya mengandalkan pemerintah. Melihat kompleksnya masalah pendidikan terutama kualitas yang masih rendah melatarbelakangi gerakan-gerakan hasil inisiatif masyarakat dan institusi, sebutlah gerakan Indonesia Mengajar yang timbul atas keprihatinan atas rendahnya kualitas guru terutama di pelosok-pelosok Indonesia. Indonesia Mengajar mengirim putra/i terbaiknya  untuk memberikan optimisme dan harapan di daerah-daerah terpencil. Mereka menyalakan kembali lilin yang mungkin sudah hampir padam. Setelah Indonesia mengajar yang di prakarsai oleh Bapak Anies Baswedan, muncul banyak gerakan serupa terutama yang di laksanakan oleh universitas-universitas terbaik di Indonesia. Ada juga Akademi Berbagi  yang merupakan gerakan sosial nirlaba untuk berbagi ilmu pengetahuan, wawasan yang diajar oleh para pakarnya. Akademi Berbagi muncul atas keprihatinan Mba Ainun Chomsun bahwa di indonesia pendidikan masih identik dengan kata mahal. Akademi berbagi mencoba menghapus sekat-sekat tersebut dan membuntikan bahwa di Indonesia masih banyak orang baik yang rela membagikan ilmunya secara gratis, karena hakikatnya ilmu itu tidak akan berkurang jika dibagi, bahkan akan terus bertambah. Yang tebaru ada Gerakan Indonesia Berkibar. Saya sempat menghadiri acara deklarasinya yang bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober yang mengambil tempat di Museum Arsip Nasional. GIB adalah sebuah gerakan pendidikan nasional yang mengajak masyarakat, koorporasi baik swasta maupun BUMUN, media dan komunitas untuk berpartisipasi dan berkontribusi dalam memperbaiki pendidikan dan pemerataan kualitas pendidikan di seluruh negeri. GIB bekerjasama dan membentuk Kemitraan Pemerintah dan Swasta untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia memperbaiki sekolah demi sekolah. GIB mencanangkan empat program yaitu:

  1. Peningkatan profesionalisme guru: memperkenalkan pengetahuan dan keterampilan menyangkut profesionalisme mendasar dan masalah pedagogi bagi guru
  2. Kepemimpinan pendidikan dan manajemen sekolah: meluaskan perspektif para pendidik mengenai profesionalisme dan bagaimana asas kepemimpinan digerakkan untuk meningkatkan hasil pembelajaran di sekolah
  3. Tata kelola sekolah: menggali paradigma-paradigma baru dalam tata kelola sekolah yang mencakup kepemimpinan, budaya sekolah, dan strategi pengembangan profesional untuk pendidik
  4. Program lanjutan: Program ini mengembangkan kapasitas para guru dan kepala sekolah atau komunitas dalam area yang spesifik.

Gerakan-gerakan diatas diharapkan bisa menjadi pendongkrak dan akselerator kualitas pendidikan di Indonesia. Harapannya kedepan akan muncul banyak gerakan masyarakat yang secara konsisten berjuang untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Yuk, rapatkan barisan. Majukan kualitas pendidikan di Indonesia sesuai dengan peran dan kapasitasnya masing-masing. Dengan meningkatnya kualitas pendidikan berarti sumber daya manusia yang terlahir akan semakin baik mutunya dan akan mampu membawa bangsa ini bersaing secara sehat dalam segala bidang di dunia internasional. Aamiin …

Peresmian Gerakan Indonesia Berkibar Nasional

Referensi

Advertisements

21 comments on “Optimisme ditengah Permasalahan Pendidikan Indonesia

  1. Alhamdulillah di Pekanbaru SD sudah bebas biaya sekolah + dapat bantuan buku jadi anak2 bisa sekolah jika ortunya mendorong. Anak2 saya waktu SD tanpa biasa samasekali tiap bulannya. Hanya u beli keperluan sendiri saja spt baju, buku tulis, sepatu dsb. Utk SMP masih bayar, semoga kedepannya biaya pendidikan yang lebih tinggi juga bisa gratis.

    • Alhamdulillah mb, memang pemerintah saat ini telah menggratiskan biaya SD-SMP dan berancana juga gratis sampai SMA. tp kmrn saya baca ada orang tua SMP negeri di Jakarta diminta byaran berkedok macam2 sama sekolah yang jumlahnya sampai jutaan ..pemeritah harus segera bertindak.

      hiks ternyata SMP disana bayar ya bu.. mudah2an segera gratis ya bu tp patut diingat gratis namun harus lebih berkualitas, karena kdg terkesan kalo gratis/murah itu kualitas rendah …pendidikan gratis ini tentunya akan menyelamatkan anak yg berasal dari kel miskin shg terancam putus sekolah ..makasih udh berkunjung ya bu, salam kenal 🙂

  2. memang dii indonesi banyak yg belum sekollah bahkan jga ada yg belum pernah duduk di bangku sekolah ..
    mang dari itu kita harus mewujud kan anak2 di indonesia agar tidak putus dengan sekolah nya .. 🙂
    maju lah terus untuk anak yg telah terputus sekolah nya , dan jangan pernah putus asa ya .. 🙂

    • yups padahal mereka merupakan calon2 pemimpin masa depan Indonesia,
      semoga pemerintah dan masyarakat bs lebih peduli ya, sehingga tidak ada lagi anak yg ga/putus sekolah ..

  3. Saya sangat setuju,blog ini menyadarkan kita bahwa pendidikan itu penting.
    seperti yang tertera diatas,kurangnya pendidikan di daerah pelosok harus diperhatikan.
    Semoga dengan adanya gerakan/lembaga-lembaga sukarelawan untuk pendidikan seperti Akademi Berbagi dapat membangkitkan semangat belajar untuk kita semua,
    dan semoga pemerintah sadar akan masyarakatnya di daerah-daerah pelosok yang membutuhkan pendidikan.
    .good luck bu susi
    . tetap semangat Nge-Blog ya bu 🙂

    • yup pendidikan sangat penting dan perlu diingat pendidikan itu harus sepanjang hayat …pendidikan merupakan keb. primer… masalah pemerataan harus segera dibenahi termasuk di wilayah perbatasan, miris banget liat film dokumenter Cerita di Tapal Batas, dimana pendidikan di perbatasan Ind-Malaysia disana terbaikan ..bahkan anak2 dan masy disana lbh mengenal Malaysia daripada Indonesia 😦

  4. Hebat buu 🙂
    Blog-nya menyadarkan kita akan pentingnya pendidikan.
    Dan kurangnya pendidikan di pelosok-pelosok negri ini.
    Semoga saja pemerintah bisa melihat kenyataan bahwa daerah pelosok juga perlu pendidikan.
    Untuk para Relawan pendidikan “tetap semangat berbagi ilmu”

  5. penting banget sekolah bagi masyarakat apa lagi untuk anak -anak yang memiliki prestasi yang tinggi dan pastinya semua orang punya cita-cita makannya pentingnya sekolah bagi masyarakat lebih penting dari apapun……….

    • yups… penting! masa depan negara ditentukan oleh pendidikan masyarakatnya …
      sayang masih banyak anak berprestasi yang harus mengubur mimpinya untuk menggapai citanya .. yuk, rapatkan barisan untuk indonesia yang lebih baik ^^

  6. iya bener, di Indonesia harus membantu dan menyemangati anak2 yang terancam putus sekolah karena faktor biaya, saatny sekarang kita berkerja sama dan bekerja lebih keras untuk memajukkan pendidikan di Indonesia sehingga memiliki daya saing di dunia Internasional …

    • yuppsss. yuk sama2 ..era globalisasi sudah datang, mau ga mau hrs segera berlali mengejar segala ketertinggalan terutama bidang pendidikan ..makasih udh mampir ^^

  7. Blognya bagus,
    Terimakasih banyak untuk organisasi sukarelawan yang mau mengadakan pendidikan secara cuma-cuma.
    Izinkan saya mengkritik sedikit kepada PEMERINTAH
    Memang tugas pemerintah tidak sedikit,tapi…
    Semestinya PEMERINTAH SADAR
    Tanpa adanya masyarakat,tidak akan ada pemerintah !
    Kepada Pemerintah “tolong hargai masyarakatnya yang membutuhkan pendidikan”
    Pemerintah itu gagal apabila rakyatnya masih banyak yang terlantar.
    Kalau pemerintah membutuhkan tenaga bantuan untuk memajukan pendidikanpun saya yakin para relawan sigap menaggapi hal tersebut.
    Fasilitasi para relawan,fasilitasi masyarakat,fasilitasi negara ini agar dapat memajukan pendidikan.
    Karena dari sekian banyak pengangguran,sebagian besar berasal dari kalangan masyarakat yang putus sekolah.
    Mohon maaf apabila ada perkataan yang kurang berkenan
    Ini pendapat saya pribadi,sekian dan terimakasih
    wassalam…

  8. wahh lengkap sekali ..terima kasih sudah mampir 🙂
    yups, sukarelawan, guru2 hebat, dan semua yang berperan aktif memajukan pendidikan Indonesia adalah pahlawan ..pemerintah dan media masaa yuk sadarkan masy untuk berperan aktif karena pekerjaan akan lebih ringan dan segera mencapai hasil yang maksimal .. ^^

  9. di daerah saya sekolah SD dan SMP Negeri sudah gratis tanpa biaya SPP dan biaya buku. Namun kadangkala guru yang bandel meminta pungutan yang mengatasnamakan siswa. Pernah juga ada guru yang menjual fotokopi jadwal ujian kepada murid seharga @Rp. 1000
    ironis, padahal dia sudah PNS.

    Ada juga guru yang sedang mengajarkan tentang berat yang mengharuskan siswanya membawa minimal 1 kg buah.
    apa ga panen itu guru.

    Guru bukan hanya titel, tapi harus jiwanya juga yang guru.

  10. ironis sekali ya bu ..disaat harusnya menjadi sosok yang digugu dan ditiru namun malah mengajarkan siswa memeras secara tidak langsung 😦 padahal pemerintah sudah lebih memperhatikan kesejahteraan Guru PNS, namun ternyata msh banyak yang ga ad puasnya …mungkin perlu dilakukan ESQ bu , guru2 diberikan pelatihan tentang peran dan fungsi guru yang sesungguhnya ,,
    makasihh ya udh mampir buu ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s