CERITA DARI TAPAL BATAS, BERKACA DARI WARGA DI PERBATASAN

Indonesia .. negeri indah kaya sumber daya ..alam, hasil tambang, budaya, manusia.. namun benarkah kekayaan tersebut bisa dirasakan oleh seluruh ibu pertiwi di negeri ini?? Pertanyaan tersebut terjawab dengan apik melalui film Cerita dari Tapal Batas karya produser Ichwan Persada. Film ini merupakan film dokumenter dengan durasi cukup panjang, biasanya film dokumenter hanya berkisar 15-30 menit, namun di film ini kita bisa lebih mendalam memahami persoalan yang terjadi di wilayah terluar dipulau Kalimantan yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Tersebutlah bu Martini dusun Badat Baru, Entikong yang berprofesi sebagai guru dengan keadaan yang bisa dikatakan sama sekali tidak mudah. Menempuh 8-12 jam perjalanan untuk sampai ke sekolah, rumah dinas yang bisa dikatakan jauh dari layak, beban mengajar 6 kelas ditambah dengan menjadi kepala sekolah, tenaga administrasi dan pesuruh membuat saya kembali berkaca pada diri ketika akan megeluh ..pilu yang saya rasakan ketika melihat ruang kelas dengan lantai dan papan tulis yang hampir terkelupas, anak-anak tanpa alas kaki atau dengan alas kaki seadanya. Adalah sebuah penghinaan bagi Ibu Martini ketika pemerintah justru mendirikan perpustakaan di sekolah tersebut padahal yang sangat diperlukan adalah tenaga pendidik untuk membantu Bu Martini mencerdaskan bangsa, ketersediaan insfrastuktur yang memadai untuk anak bangsa sehingga lebih mudah menggapai asa haruslah menjadi prioritas utama. Bisa bersekolah tinggi merupakan kemewahan. Lulus sekolah dasar mereka terpaksa bekerja untuk membantu orang tua dengan mencari ringgit ke negara tetangga. Bahkan masyarakat disana lebih mengenal ringgit daibanding rupiah. Malaysia seolah merupakan harapan baru masyarakat disana. Malaysia bagi mereka bisa lebih memberikan pengharapan akan adanya masa depan. Disini …nun jauh disana, kita akan habis-habisan menghujat Malaysia jika mereka mengklaim sesuatu milik kita, namun disisi lain bagi sebagian orang diperbatasan sana Malaysia seolah menjadi sandaran hidup karena ketidakmampuan pemerintah melindungi dan mensejahterakan rakyatnya. Aku bisa membantu apa yahh 😦

Cerita lain datang dari Mantri Kusnadi yang mengabdi sebagai mantri desa dengan cara berkeliling mengunjungi pasiennya. Hal tersebut beliau lakukan tanpa rasa pamrih walaupun letih teramat harus dijelang, hal tersebut demi satu kata ..PENGABDIAN.. melihat warga masyarakat sehat merupakan KEBAHAGIAANNYA. Mantri Kusnadi menempuh jarak puluhan kilo untuk mencapai rumah-rumah warga yang terletak dipedalaman sekalipun. Ketiadaan akses kesehatan membuat masyarakat sangat menggantungkan kondisi kesehatannya pada Mantri Kusnadi. Sangatlah ironis ketika mendengar masyarakat berbicara langsung bahwa untuk mencapai puskesmas yang terletak di Kecamatan/Kabupaten harus mengeluarkan uang hingga jutaan rupiah, dimana uang tersebut merupakan konsekuensi dari mahalnya ongkos transportasi yang harus mereka tanggung. Entah kapan mereka bisa memperoleh hak pendidikan dan kesehatan yang setara dengan warga masyarakat dibelahan Indonesia lain.

Yang terakhir Film ini mengangkat kisah Ella yang berasal dari Singkawang. Ketidakberdayaan ekonomi membuat Ella dan teman-teman menjadi korban trafikking dengan iming-iming menjadi istri orang kaya di negeri orang dan Ellla bukanlah satu-satunya..

Kisah Guru Martini, Mantri Kusnadi dan Ella membuat kita tertampar bahwa ternyata kemerdekaan belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Hal inilah yang menjadi penyebab Indonesia dikategorikan sebagai negara gagal. Namun bukan berarti harapan itu telah padam. Masyarakat saat ini yang geram melihat kondisi yang ada mulai bergerak untuk Indonesia yang lebih baik, gerakan Indonesia Mengajar, Indonesia Penyala menjadi bukti nyata. Film ini sangat membuka mata dan meminta kita berkaca agar kita lebih sensitif akan persoalan yang terjadi Indonesia. Kisah yang diangkat dalam film ini akan menjadi PR besar bagi kita semua, terutama pemerintah. Ah..seandainya saja tidak ada uang negara yang dikorupsi oleh tikus-tikus negara, seandainya saja hukum di Indonesia bisa lebih memihak kaum yang terpinggirkan dan tidak pandang bulu, tak akan kita dengar kisah seperti Guru Martini, Mantri Kusnadi dan Ella. Film ini merupakan salah satu film dokumenter terbaik yang pernah saya lihat, bahkan Cerita dari Tapal Batas masuk dalam nominasi film dokumenter terbaik 2011 dalam Festival Film Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s