CEGAH PEKERJA ANAK DENGAN PENDIDIKAN

Ketika mendengar kata anak, yang terlintas dibenak kita adalah dunia bermain, belajar dengan penuh keriangan tanpa beban. Namun apa jadinya jika justru hal sebaliknya terjadi. Hak-hak bermain, belajar dan mengeksplorasi diri mereka terampas karena satu hal, BEKERJA!. Bekerja disini berarti mencari nafkah atau penghasilan untuk membantu ekonomi keluarga. Disaat anak-anak lain bermain dan bergembira bersama dengan rekan sebaya, mereka harus berjibaku dengan kerasnya kehidupan demi mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Ilustrasi Pekerja Anak

Pemerintah telah mencanangkan wajib belajar 9 tahun, bahkan rencananya akan menjadi wajib belajar 12 tahun, namun masih banyak anak yang terpaksa tidak menikmati bangku sekolah karena bekerja. Bekerja merupakan pilihan pahit yang harus mereka ambil. Masalah pekerja anak di Indonesia sudah dalam taraf yang mengkhawatirkan. Menarik mencermati salah satu artikel di Voa Indonesia dalam salah satu artikelnya pada tanggal 20 Juni 2012 yang berjudul Organisasi Buruh Internasional: Pendidikan sebagai Solusi Atasi Masalah Pekerja Anak, yang menyebutkan laporan dari Understanding Children’s Work (UCW). UCW yang merupakan sebuah program kemitraan antara Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), UNICEF dan Bank Dunia dalam laporannya yang berjudul “Memahami Pekerjaan yang Dilakukan Anak dan Pekerja Muda”, menyebutkan antara lain 2,3 juta anak Indonesia berusia 7-14 tahun terlibat dalam pekerjaan. Sebagai seorang pendidik, saya sangat prihatin dengan keadaan tersebut. Anak-anak tersebut mayoritas bekerja di sektor informal dengan upah yang minim.

Namun saya agak kurang setuju dengan pendapat bahwa jumlah pekerja anak didesa yang bekerja lebih banyak dari dikota.  Sebagai contoh, saya sempat menelusuri seorang pekerja anak di Bekasi, sebut saja D namanya. Ayah D meninggal ketika dia berusia 2 tahun. Sejak itu D tinggal bersama neneknya karena sang ibu menikah lagi. Ketika duduk di bangku SLTP, D terpaksa putus sekolah karena malu menunggak bayaran SPP selama 6 bulan dan juga uang buku. Putus sekolah, D terpaksa bekerja untuk membantu pemenuhan hidup sehari-hari bersama neneknya yang saat ini keadaannya lumpuh. D bercerita bahwa saat ini dia bekerja sebagai PNS. Saya kaget dan bertanya, apa benar kamu menjadi Pegawai Negeri Sipil? Kok bisa? Dia tersenyum kecil, dan menjawab, “PNS Itu artinya Pegawai Negeri Steam bu ..” saya hanya tersenyum simpul. Meskipun kehidupannya pahit, D selalu tersenyum. Dengan upah sekitar Rp.10.000/hari bahkan tidak dapat upah sama sekali ketika tempat kerjanya sepi, D mencoba tetap bertahan. Saya ingin D tetap melanjutkan pendidikannya, setidaknya D mengikuti ujian persamaan, sehingga bisa lanjut ke jenjang yang lebih tinggi. Cerita lain datang dari Y, Y terpaksa tidak melanjutkan setelah lulus SLTP karena harus membantu ibu nya sebagai pencuci botol minuman dimana jam kerjanya dari pagi sampai malam dengan upah Rp.100.000/minggu. Sebenarnya Y sudah mendaftar disekolah yang saya rintis, SMK ITACO dimana Y mendapat bantuan melalui program beasiswa orang tua asuh. Namun baru sehari sekolah, Y dilarang ibunya masuk sekolah karena dipaksa untuk bekerja. Saya sedang memikirkan jalan bagaimana agar Y bisa bersekolah kembali namun bisa tetap membantu ibunya mendapatkan penghasilan.

Secara umum, kemiskinan memang merupakan penyebab utama tingginya angka pekerja anak. Menurut definisi Bank Dunia, seorang dikatakan miskin ketika pendapatannya kurang dari $1/hari. Angka kemiskinan saat ini disinyalir mencapai 29 juta jiwa (sumber disini). Kemiskinan terkait erat dengan pengangguran. Ketika seseorang menganggur, dia tidak produktif sehingga tidak memperoleh penghasilan guna mencukupi kebutuhan keluarganya, bahkan ketika tuntutan perut mendesak tak jarang tindakan kriminalitas menjadi pilihan akhir. Masalah kemiskinan, pengangguran, pekerja anak, dan kriminalitas menjadi seperti lingkaran setan. Lingkaran tersebut harus diputus dengan pendidikan. Mengapa pendidikan? Karena melalui pendidikan, seseorang akan mempunyai bekal untuk mencari pekerjaan yang lebih baik, dengan pekerjaan yang lebih baik, maka harapannya adalah penghasilan yang lebih baik sehingga bisa memenuhi kebutuhan hidup dan juga menyekolahkan putra/putrinya, dengan demikian maka kasus pekerja anak dapat dicegah.

Salah satu kondisi tempat tinggal anak yang putus sekolah

Pertanyaan sekarang bagaimana menciptakan lapangan kerja untuk mengurangi pengangguran dewasa terutama mereka yang memiliki anak usia sekolah dan bagaimana agar tidak ada lagi pekerja anak di Indonesia? Kita semua saat ini harus lebih menggalakkan UMKM (Usaha Menengah, Kecil dan Mikro), mengapa UMKM? Karena UMKM terbukti mampu bertahan diera krisis ekonomi 1998. Pemerintah didukung oleh segenap masyarakat harus memberikan pelatihan-pelatihan dan bantuan modal terkait dengan UMKM. Saat ini UMKM kendala utamanya adalah pemodalan dan pemasaran. Pemerintah harus sering memberikan pelatihan-pelatihan UMKM terutama pelatihan IT bagaimana menggunakan IT untuk memaksimalkan pemasaran, seperti bagaimana membuat website sehingga penjualan bisa menjangkau untuk wilayah yang lebih luas.

Kerjasama semua pihak diperlukan untuk mencegah terjadinya pekerja anak. Anak-anak harus masuk dunia pendidikan. Dunia pendidikan harus dibuat berdasarkan prinsip keadilan. Pemerintah harus mengidentifikasi anak rawan putus sekolah diberbagai jenjang pendidikan, selanjutnya mengalokasikan dana untuk menjamin anak tersebut tetap meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi. Dana tersebut harus jelas alokasi dan transparansi dananya, jangan sampai dana tersebut dikorupsi yang pada akhirnya hilangnya pekerja anak di Indonesia hanya sebuah impian.

Saya setuju dengan artikel dari Voa dalam Organisasi Buruh Internasional: Pendidikan sebagai Solusi Atasi Masalah Pekerja Anak, dimana peningkatan kualitas pendidikan sejak usia anak-anak akan menjadi sumbangan penting untuk menjamin hak-hak dalam memperoleh pekerjaan yang layak. Yuk, saat ini jangan mencari siapa yang salah dalam kasus pekerja anak. Saatnya semua bahu membahu untuk menjadi bagian dari solusi dengan 3M. Dimulai dari yang kecil, dimulai dari diri sendiri dan dimulai dari sekarang, salah satunya dengan menjadi orang tua asuh bagi siswa/i kami di SMK Itaco, karena pendidikan merupakan hak setiap anak bangsa di negeri ini.

SMK Itaco, keterbatasan bukan halangan untuk maju 🙂

A human being is not attaining his full heights until he is educated – Horace Mann –

Sumber foto: http://sekitarkita.com/wp-content/uploads/2007/05/pekerja-anak.jpg

Advertisements

One comment on “CEGAH PEKERJA ANAK DENGAN PENDIDIKAN

  1. Pingback: Cegah Pekerja Anak dengan Pendidikan « Kontes Ngeblog VOA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s