“Be an Educator in Changing World” – Liputan dari Open House Sampoerna School of Education

Hari itu, 26 Juni 2012 ada sesuatu yang berbeda ketika membuka email masuk. Apa apa gerangan? Saya mendapat email dari salah satu rekan dari akademi berbagi, Mas Danny Brahmantyo. Saya langsung antusias ketika email tersebut berisi undangan untuk menghadiri undangan open house dari Sampoerna School of Education (SSE) Sabtu, 30 Juni 2012. Saya termasuk orang yang senang menghadiri acara-acara dengan tema pendidikan. Hal lain adalah, ketika melihat di run down acara, Rene Suhardono menjadi salah satu pembicara. Saya termasuk salah satu penggemar tulisan-tulisannya termasuk bukunya yang berjudul “Your Job is not Your Career”. Buku tersebut termasuk buku yang memantapkan pilihan saya untuk berkarir di dunia pendidikan.

Pagi itu, Sabtu 30 Juni 2012 saya berangkat ke kampus SSE di kawasan Mulis Business Park, Pancoran. Saya berangkat sendiri dengan mengendarai sepeda motor kesayangan karena jika naik kendaraan umum khawatir telat. Acara open house SSE direncanakan akan dimulai pukul 08.30 dan saya tiba disana pukul 08.15. Setelah rekan-rekan dari akademi berbagi datang, kami langsung registrasi dan menuju lantai auditorium. Sebelum masuk ke auditorium, kami menyempatkan diri mengunjungi booth pameran yang ditampilkan oleh mahasiswa SSE. Saya mengunjungi booth SSE ICT club dan mencoba game matematika yang bernama Kodo. Selain itu, saya juga mengunjungi stand SSE Debate Club dan booth organisasi perkumpulan mahasiswa SSE. Saya menanyakan aktifitas-aktifitas yang dilakukan oleh kedua organisasi tersebut dan mereka sangat fasih menjelaskannya. Saya mencatat bahwa rata-rata mahasiswa disana memiliki kepercayaan diri dan public speaking yang baik. Setelah itu kami memasuki ruang auditorium karena acara talkshow akan segera dimulai.

Booth Badan Perwakilan Mahasiswa

Acara talkshow sesi 1 ini menampilkan perwakilan Indonesia Mengajar, Erwin Puspaningtyas, Konsultan Karir dan penulis buku laris Rene Suhardono yang lebih dikenal dengan Rene CC, dan perwakilan dari mahasiswa SSE, Yosea Kurnianto. Mba Dora bertindak sebagai MC sekaligus mengumumkan lomba live tweet dan blogging dengan tema “Karir di Dunia Pedidikan”. Mba dora kemudian mempersilahkan Prof. Paulina untuk memberikan welcome speech talkshow yang mengambil tema “Be an Educator in Changing World”. Bu Paulina mengatakaan saat ini kita harus menjadi pendidik generasi baru Indonesia yang sedang mengalami transformasi baik secara politik, ekonomi dan tidak terkecuali pendidikan. Hal lain yang menjadi tantangan adalah Asian Free Trade Area (AFTA). Pertanyaannya adalah apakah kita sudah siap dengan hal tersebut? Jawabannya adalah kita HARUS SIAP! Saat ini ICT sudah demikian berkembang dan mengalami kemajuan. Dengan ICT semua orang terkoneksi. Jika semua orang sudah terkoneksi, maka apa peran guru? Guru saat ini bukan lagi seorang yang hanya mengajar di kelas-kelas, saat ini kita menjadi pendidik di mana saja dan kapan saja. Sebagai pendidik, kita tidak ingin mereka menjadi seperti kita tetapi harus lebih dari kita karena pendidik membukakan jendela untuk peserta didik karena pendidikan artinya membuat anak melampaui jendela yang kita buka. Bu paulina berpesan, sebagai pendidik kita harus bergandeng tangan dan harus memberikan keyakinan, kepercayaan dan kecintaan. Itulah arti dari passion. Pendidik harus menginspirasi peserta didik untuk berbeda dan menciptakan profesi-profesi lainnya. Satu kalimat yang sangat menyentuh saya adalah “Pendidikan tidak memberi sayap peserta didik untuk terbang, tetapi membantu mereka untuk mengepakkan saya untuk terbang”. Beliau mengutip apa yang dikatakan oleh Kahlil Gibran: “Saya belajar toleransi dari intoleransi dan alam semesta menjadi buku”. Menjadi pendidik bukan menjadi actor dikelas semata, namun aktor di dunia.

Setelah dibuka oleh ibu Prof. Paulina Pannen, kita mamasuki sesi talkshow yang dipandu oleh moderator cantik, Mba Nisa Faridz. Sebelumnya saya pernah bertemu dengan Mba Nisa di acara Bincang Edukasi dimana beliau menjadi salah satu pembicaranya. Mba Nisa mengatakan bahwa SSE akan merubah nama menjadi Universitas Siswa Bangsa Internasional, dimana SSE bertransformasi dari sekolah tinggi menjadi Universitas. Pembicara pertama, Mba Erwin dari Indonesia Mengajar menceritakan pengalamannya menjadi pengajar muda di pedalaman Majene, Sulawesi. Erwin menjelaskan menjadi pengajar muda merupakan panggilan hatinya, meskipun sebelumnya beliau diterima melalui program ODP disalah satu Bank BUMN terkemuka di Indonesia. Ketika kita beranggapan bahwa “Changing World” adalah mengenal gadget-gadget canggih, kemudahan akses hidup namun bagi masyarakat disalah satu pelosok Majene, “Changing World” diartikan bisa mengenal Bahasa Indonesia, masuknya listrik, masuknya sinyal HP dan mengenal tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Hal tersebut merupakan gap dalam dunia pendidikan, sehingga harus ada teman-teman yang memperkecil gap tersebut seperti teman-teman dari Indonesia Mengajar. Saya juga melihat, setelah gerakan Indonesia Mengajar banyak bermunculan gerakan-gerakan serupa karena hakikatnya mengajar adalah kewajiban setiap orang. Saya sangat suka dengan tagline Indonesia Mengajar: “Setahun Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi”. Cerita lain dari Mba Erwin adalah ketika bertanya pada muridnya:

‘’Sebutkan tiga bentuk kegiatan ekonomi?” dan apa jawaban mereka?? Mereka menjawab: “Segitiga, segiempat dan segilima”

Hal tersebut terjadi karena adaya kendala bahasa. Mba Erwin lebih lanjut menjelaskan bahwa lebih sulit mengajari mereka Bahasa Indonesia daripada mengajari anak luar berbahasa Indonesia. Ketika dikota hiburan anak-anak adalah televisi, maka bagi anak-anak sana hiburannya adalah rebana dan mereka harus turun gunung sekedar untuk nonton mobil. Dari cerita Mba Erwin saya menyimpulkan bahwa meskipun Indonesia sudah lama merdeka, namun kondisi pendidikan amat tidak merata. Sudah saatnya kita dapat memperkecil gap yang ada dengan apa yang kita bisa dan apa yang kita miliki.

Para Pembicara Sesi #1 (Mba Erwin, Yosea dan Rene CC) + Mba Nisa Faridz, Sumber: @dbrahmantyo

Pembicara selanjutnya adalah Rene Suhardono atau Rene CC. Judul materi yang dibawakan adalah “Welcome to our extreme future” Rene mengatakan ketika kita bertanya tentang masa depan, sama seperti bertanya tentang apa cuaca besok? Kita saat ini hidup dalam dunia yang telah berubah drastis. Contohnya, hutang semua orang saat ini sudah mencapai USD 195 triliun dan 30% pemberi hutang saat ini adalah China. Contoh lain adalah Rene menceritakan ketika diundang ke Samarinda, dimana Rene sangat kaget karena tambang terbuka sangat mudah ditemui di dalam kota. Hal lain, baru-baru ini Instagram yang baru berusia 18 bulan value creationnya sudah mengalahkan 50 mining company setelah dibeli oleh Facebook dengan nilai fantastis. Saat ini siapa yang dapat menguasai sumber daya, maka dia bisa menguasai segalanya. Dunia semakin berubah dan yang paling penting saat ini adalah mengenal diri untuk benar-benar mengetahui apa yang paling diinginkan dalam hidup ini. Rene menjelaskan bahwa sejak dahulu sampai saat ini orang tua banyak yang masih berpesan pada anaknya untuk mencari pekerjaan yang secure. Namun hal tersebut tidak berlaku saat ini, tidak pekerjaan yang aman. Indonesia saat ini mempunyai 120 juta angkatan kerja dan 4% diantaranya adalah sarjana. Dari angka tersebut 14,8% memilih untuk menganggur untuk mendapatkan penempatan menjadi PNS. Sebuah kenyataan yang cukup mengagetkan. Saat ini ada mismatch antara Field of Fascination Field of Work, sehingga yang harus dilakukan sekarang adalah mulai mendengarkan kata hati kita dan mulai temukan passion yang ada pada diri kita. Menurut Rene, passion adalah state of being dan passion tidak sama dengan ambition. Ambitian adalah state of becoming. Ketika passion berbicara, itu akan memberikan segalanya. Passion akan memberikan kita tujuan dimana tujuan merupakan target yang ingin kita capai dalam hidup. Education merupakan field of fascination bukan field of work. Rene berpesan “Stop listening market, but start to listening to your heart and focus on creating value, do something awesome and make a change” pesan yang luar biasa lainnya adalah “Focus on your impact, think less and fell more” Rene CC memberikan 3 pesan penting:

  1. Passion: jika hati kita senang dan menikmati hal tersebut, maka itu merupakan salah satu cara mengetahui passion kita. Untuk melihat apa itu passion, ingatlah ketika kita sedang jatuh cinta.
  2. Education: education is not what to learn but how to learn.
  3. Creation: ciptakanlah sesuatu. Saya sering sampaikan pada peserta didik bahwa kompetensi yang dibutuhkan saat ini adalah problem solving dan creating product.

Menurut pendapat saya passion adalah aktivitas yang memberikan kepuasan terdalam ketika kita melakukannya yang memanifestasi nilai dan kesenangan kita. Passion adalah sesuatu yang memotivasi kita untuk bangun di pagi hari. Ada beberapa pertanyaan panduan untuk menemukan passion dalam diri kita:

  1. Hal apa yang membuat kita terus tersenyum dan apa yang paling sering kita bicarakan?
  2. Hal apa yang memancarkan kreativitas kita? Pikirkan tentang sesuatu di hidup kita dimana kita selalu ingin memperluas pandangan, selalu muncul ide baru yang berhubungan dengan hal tersebut.
  3. Hal apa yang mau kita lakukan meski tidak dibayar? Saya pernah membaca jika kita melakukan apa yang kita sukai tanpa memikirkan hal itu akan membuat kita kaya atau tidak, maka hal tersebut akhirnya akan membuat kita sukses.
  4. Hal apa yang akan kamu sesali jika tidak mencobanya? Tidak ada hal yang paling buruk daripada tiba di ujung waktu perjalanan dan menyesal.

An educator focus on creating value – Rene CC

Setelah sharing dari Rene CC yang cukup menyentil kita tentang passion, kemudian lanjut sharing dari perwakilan salah satu Mahasiswa SSE, Yosea Kurnianto yang merupakan mahasiswa angkatan 1. Sebelum masuk SSE, sebenarnya Yosea mendapat 3 beasiswa di bidang perkebunan, pelayaran dan pendidikan. Yosea mengaku awalnya dia tertarik menjadi pendidik namun sekarang mempunyai niat yang kuat menjadi seorang pendidik. Yosea juga dikenal sangat aktif di kampusnya. Bagi Yosea SEE tidak hanya menjadi school of education tetapi juga school of life.

Acara kemudian masuk ke sesi kedua dengan menampilkan Ibu Rosalina selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan juga Grace Chandra, perwakilan mahasiswa dari English Teaching Department. Ibu Rosa berpendapat menjadi pendidik di era yang sedang berubah, satu kata kuncinya : peka dan involve terhadap perubahan. Ibu rosa menceritakan pengalaman bagaimana dulu sang ayah yang menentang keputusannya menjadi seorang guru, namun sekarang sanga ayah sangat bangga terhadap profesinya tersebut. Ibu Rosa bisa bisa membuktikan apa yang beliau sukai dapat memberikan apa yang beliau sukai. Bu Rosa mengatakan “I’m proud to be an educator …” so di I bu .. 🙂

Lanjut, bu Rosa menceritakan sejarag singkat SSE dan milestone yang telah dilalui. SSE didirikan pada tahun 2009 dengan dua jurusan, Pendidikan Matematika dan Bahasa Inggris dengan 89 mahasiswa. Kemudian di tahun 2010, menandatangani MoU dengan diknas terkait dengan School Experience Program. Tahun 2011, MoU ditandatangani dengan Microsoft sebagai partner dalam pembelajaran dan tahun ini ditandatangani MoU dengan Intel untuk program yang sama. Ibu Rosaline mengutip bahwa didunia sebenarnya hanya dikenal dua profesi, “Guru” dan “Bukan Guru” karena gurulah yang mengajar profesi-profesi lainnya. Pendidik itu tidak harus seorang guru, namun semua pendidik pastilah seorang guru. Profesi pendidik saat ini tidak identik hanya menjadi seorang guru semata, tetapi bisa menjadi writer, day care owner, motivator, training facilitator, researcher, urban community educator, e-learning consultant, educator for community development, school consultant, education software development, school consultant dan education policy maker dan masih banyak lagi. Ibu Rosa juga menjelaskan di SSE dikenal program Multy Entry dan Multy Exit. Jadi bisa masuk ketika sudah bekerja dan baru menemukan passionnya sebagai pendidik. Terakhir Ibu Rosaline mengatakan tidak perlu khawatir dengan besarnya materi yang selama ini banyak dikhawatirkan ketika menjadi seorang guru, karena beliau dan saya sangat percaya “The more you give, the more you get  …. “

Ibu Rosalina 🙂

Narasumber terakhir adalah Grace Natalie yang menceritakan pengalamannya sebagai mahasiswa English Teaching Department. Grace bercerita awalny sering di ledek oleh teman-teman dan orang terdekatnya: “buat apa jadi guru ..gajinya kecil dll “ namun Grace bisa membuktikan meskipun masih menempuh pendidikan namun berhasil menjadi salah satu pembicara dalam salah satu konfrensi internasional di Filipina, bahkan banyak yang mengira bahwa Grace ini adalah seorang DOSEN!

Grace sedang sharing pengalaman di SSE 🙂

Hmm ..senang sekali saya bisa berkunjung ke SSE. Saya percaya bahwa SSE bisa menciptakan pendidk-pendidik unggul dimasa depan. Acara ditutup dengan penampilan dari SSE Choir Club membawakan salah satu lagu daerah dari Sumatera Utara, KEREN!

SSE Choir Club 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s