Guru.. karir yang tak kan pernah usang ..

“The influence of a good teacher can never be erased.”

–     Unknown

Pengaruh guru yang baik tidak akan pernah terhapus .. setelah pernah mengalami menjadi seorang murid dan beberapa tahun merintis karir menjadi seorang guru, saya termasuk orang yang percaya dengan kutipan tersebut. Pengaruh seorang guru yang baik akan terus melekat sepanjang hayat anak didiknya, bahkan terkadang ketika anak beranjak dewasa, pengaruh guru sama atau bahkan lebih besar dari orang tua. Sejak SD, guru merupakan sosok yang sangat dekat dengan keseharianku karena statusku sebagai murid. Entah mengapa saya suka sekali ketika guru saya memberikan nilai atas hasil pekerjaan rumah atau ulangan-ulangan, saya suka melihat angka yang terterta di kertas itu. Ada khayalan seandainya suatu saat nanti saya menuliskannya di kertas murid-murid saya. Hal lain adalah, saya senang sekali ketika SMP pernah diajak oleh guru seni rupa untuk mengoreksi hasil ujian catur wulan teman-teman sekolah di rumahnya. Wahh, walaupun belum jadi guru saya sudah boleh mengoreksi walaupun hanya pilihan gandanya saja. Luar biasa perasaan ketika itu.

A good teacher, source: http://www.oakland.edu

Menjalani karir di dunia pendidikan merupakan pilihan yang sesuai dengan passionku. Ketika duduk di bangku SMU 1 Cirebon, saya mengidolakan Guru Bahasa Inggris yang bernama Bu Fifi yang kebetulan ketika itu juga menjadi wali kelas di kelas 3. Entah mengapa juga, ketika SMP pun yang saya idolakan adalah guru Bahasa Inggris, Bu Yeti. Saya menyukai cara mereka menyampaikan materi sehingga saya juga akhirnya menyukai pelajaran Bahasa Inggris dimana awalnya saya menganggap bahwa Bahasa Inggris merupakan pelajaran yang sulit. Nah apa saya bercita-cita menjadi Guru Bahasa Inggris? Ya! Hal tersebut pernah terlintas, namun ketika SMU saya lebih menggemari pelajaran Ekonomi. Hal tersebut bisa dilihat dari nilai raport, dimana Ekonomi lebih tinggi dari Bahasa Inggris. Saya pun memantapkan diri pindah Jurusan ke IPS, karena saya tau saya lebih menyenangi Ekonomi/Akuntansi dibanding eksakta. Ketika itu, Wakil Kepala Sekolah kami heran dan bingung ketika saya pindah jurusan karena rata-rata yang minta pindah itu dari IPS ke IPA. Hehehe. Ketika UGM akan mengadakan ujian masuk dimana jadwalnya lebih dulu dibandingkan dengan SPMB, saya mengalami perasaan kalau zaman sekarang itu mungkin namanya “galau” karena awalnya saya ingin melanjutkan ke Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengambil Pendidikan Ekonomi, namun Bu Fifi mendorong untuk megikuti tes tersebut, dan jika saya memang ingin mengajar setelah lulus nanti bisa mengambil Akta IV.

Setelah tes dan dinyatakan di terima di FE UGM jurusan Ilmu Ekomoni, saya menjalani kehidupan kuliah seperti biasa. Diawal semester masih disibukkan dengan urusan kuliah dan menjelang semester-semester akhir, saya mendapat tawaran untuk magang di PSEKP (Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik) sebagai asisten peneliti. Saya sangat menikmati pekerjaan tersebut dan disana mendapat kesempatan juga untuk mengantikan Mas Dhani sebagai tentor untuk Statistika Komputer di D3 FE UGM. Pengalaman mengajar tersebut sangat luar biasa, saya sangat menikmati ketika mempersiapkan materi mengajar, menikmati ketika menerangkan dan mereka memahami, menikmati ketika ada yang bertanya dan bisa menjawab dengan baik, menikmati ketika mengoreksi hasil ujian mereka. Semua priceless, alias tak ternilai dengan rupiah!

Setelah lulus, saya pindah ke Ibukota Jakarta. Saya tinggal dengan kakak dari mama yang merupakan seorang Guru Geografi di SMP. Meskipun usianya sudah lebih dari setengah abad, namun masih terlihat awet muda. Kami banyak berdiskusi banyak soal pendidikan. Dari situ, ketertarikan saya bertambah besar di bidang pendidikan. Sebagai fresh graduate dan mengetahui seberapa besar minat saya di pendidikan, saya mengajar di Bimbel yang bernama Gema UI, untuk SD, SMP dan SMU. Tempat yang lumayan sampai naik angkot 3 kali tidak menjadi penghalang untuk saya mengajar disana.

Siswa bimbelku yang lucu 🙂

Setelah 3 bulan mengajar, saya diterima magang di Bank Indonesia Pusat sebagai asisten peneliti. Dunia penelitian juga merupakan dunia yang saya sukai sejak magang di PSEKP UGM, dan akhirnya pindah lagi ke sebuah perusahaan asuransi umum, PT. Asuransi AIU Indonesia. Saya sengaja berpindah tempat kerja karena saya yakin, diakhir saya akan menemukan sendiri bidang yang sesuai dengan passion saya. Ketika bekerja di Asuransi, saya sempat juga di terima program MT di salah satu bank swasta di Indonesia, namun entah mengapa saya ga ambil dengan alasan sedang mengambil kuliah Akta IV. Karena bukan berasal dari keguruan, saya pun mengambil kuliah Akta IV sambil tetap bekerja untuk membiayai pendidikan tersebut dan juga kuliahnya pun diaksanakan pas weekend sehingga masih bisa tetap bekerja.

Menjelang tahun ajaran baru 2009/2010 dan kuliah Akta IV telah selesai, saya memberanikan diri untuk melamar ke beberapa sekolah. Alhamdullilah, beberapa hari kemudian saya di telepon untuk datang ke SMK Iptek Jakarta. Singkat cerita, saya diterima untuk mengajar Mata Pelajaran Kewirausahaan. Agar lebih dekat ke sekolah, saya pun pindah mengontrak dekat sekolah. Ketika pertama ngajar, berbekal pengalaman kuliah Akta IV saya mencatat bahwa keterampilan paling penting seorang guru adalah penguasaan kelas. Saya mengumpulkan materi-materi pelajaran dan aplikasi-aplikasi yang bisa saya terapkan di kelas. Campur aduk rasanya ketika awal-awal mengajar meskipun ini bukan pengalaman pertama saya mengajar. Ditahun pertama juga saya dipercaya untuk menjadi wali kelas 1R4. Kelas ini sampai sekarang mempunyai kedekatan emosional yang sangat kuat. Kami sangat dekat dan sering melakukan aktivitas bersama, seperti membuat kue, nonton film bersama dikelas, refreshing ke Monas, ke pesta pernikahan bersama, silaturahmi Idul Adha dirumah salah satu siswa dan masih banyak lagi.

Setelah menghias kelas untuk lomba 🙂

Berkunjung ke pameran wirausaha muda mandiri 🙂

Beberapa hal berikut merupakan faktor mengapa saya ingin terus berkarir di dunia pendidikan:

  1. Ketika mengajar dan peserta didik dapat memahaminya, saya mendapatkan kepuasan tersendiri yang luar biasa yang terkadang sulit diungkapkan dengan kata. Hal tersebut tidak pernah saya dapatkan dipekerjaan lain.
  2. Saya menyadari dan melakukan refleksi dimasa remaja bahwa saya termasuk orang yang senang bersosialisasi dan tampil di depan umum sehingga karir di dunia pendidikan bisa mengakomodir minat saya.
  3. Dengan mengajar maka saya akn terus belajar dan mengupgrade ilmu. Untuk menghasilkan generasi yang unggul, maka peserta didik harus mendapatkan partner belajar yang baik. Ilmu pengetahuan terus mengalami perkembangan, maka guru tidak bisa berdiam diri dan menganggap cukup ilmu yang dimilikinya karena belajar itu hakikatnya sepanjang hayat (life long learning)
  4. Pendidikan merupakan dunia yang dinamis dan saat ini para guru dibantu dengan adanya perkembangan ICT, sehingga belajar saat ini tidak lagi berpusat pada guru yang mengandalkan metode ceramah. Bagi yang suka belajar, berkarir di dunia pendidikan kita akan selalu dituntut lebih maju agar bisa membukakan jendela ilmu pengetahuan bagi murid kita.
  5. Berkarir di dunia pendidikan, maka kita mempunyai peran strategis terhadap pembentukan karakter yang penting dimiliki oleh peserta didik untuk bangsa yang lebih maju. Seperti kita ketahui, guru mempunyai peran strategis dalam kemajuan suatu bangsa, bahkan ada yang menyebutkan profesi di dunia itu hanya ada 2, guru dan bukan guru 😀 karena gurulah yang mencetak profesi-profesi hebat lainnya. bahkan di Finlandia, negara dengan sistem pendidikan terbaik, menempatkan profesi guru sebagai profesi yang prestisius. Pemerintah di negara tersebut hanya mengambil lulusan top 10 university yang masuknya juga konon lebih sulit dari fakultas kedokteran.
  6. Menarik ketika kita bisa mengenal beragam tipe karakter peserta didik dan bagaimana kita bisa menyesuaikan diri dengan mereka. Beragam karakter beragam pula cara belajarnya. Saya berusaha untuk memberikan suasana belajar yang berbeda. Terkadang saya mengejak mereka pergi belajar di luar seperti Monas dan tidak melulu dikelas, sehingga kami belajar sekaligus refreshing.
  7. Era Sosial Media saat ini memungkinkan bertemu dan belajar dengan guru-guru hebat. Para guru bisa terkoneksi satu sama lain. Mereka bisa berhubungan tanpa batas ruang dan waktu. Ketika ada permasalahan dalam pembelajaran, bisa langsung mencari solusi dengan langsung bertanya pada para pakar bahkan dari luar negeri. Muncul juga situs-situs bagus untuk para guru seperti guraru, edmodo, klub guru, dan masih banyak lagi. Ada juga milis-milis dan grup-grup di Facebook seperti Ikatan Guru Indonesia dll. Melalui media tersebut, kita dapat bertukar informasi yang terkait dengan dunia pendidikan.

    Belajar di pelataran Monas 🙂

    Precious Moment with Mr. Anies Baswedan 🙂

    OmJay dan Pak Agus S, salah 2 guru panutanku 🙂

  8. Selalu muncul hal-hal yang sangat emosional ketika menjadi seorang guru. Contohnya ketika suatu ketika saya berulang tahun mereka memberikan figura foto saya bersama mereka. Saya sangat terharu menerimanya ;’) selain itu ada moment ketika kenaikan kelas dan saya membagikan raport kepada ibu seorang siswa, sang ibu berkata dengan berderai bahwa dia akan mengeluarkan anaknya dari sekolah karena sejak masuk sekolah belum mampu bayar biaya sekolah. Saya sedih mendengarnya karena saya sangat mengenal anak tersebut, yang termasuk anak dengan semangat belajar tinggi. Saya bilang pada ibu tersebut, jangan bu.. Insya Allah saya akan mencarikan jalan keluar. Meskipun saat itu saya tidak tahu jalan keluar seperti apa. Dengan kebaikan sang Maha Pencipta, saya mencoba menjelaskan keadaan anak tersebut kepada seorang rekan ketika kuliah, dan syukurlah beliau bersedia membantu bahkan sampai anak tersebut lulus sekolah. Meskipun bukan saya yang membantu, saya sangat bersyukur anak tersebut bisa terus bersekolah sampai selesai.

    Foto cantik dari 1R4 🙂

Saya menyadari bahwa sebagai seorang guru saya masih mempunyai banyak kekurangan, namun itu tidak akan menyurutkan langkah saya disini. Saya pernah mendengar bahwa ilmu merupakan amal yang akan kita bawa sampai kita tidak bernyawa lagi sebagai bekal kita kelak dan saya percaya “The more you give, the more you get”. Guru dan dunia pendidikan merupakan karir yang tidak akan pernah usang karena hakikatnya Pendidikan bukan persiapan untuk hidup, tapi pendidikan adalah hidup itu sendiri …(John Dewey)

Advertisements

One comment on “Guru.. karir yang tak kan pernah usang ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s